Halloooo~
This is part 2 of the lastest story. I wonder the post was broke cause the space does not loud.
Enjoy~
**
Are
you feeling fine~
Suara Hyde yang muncul lewat speaker
handphoneku membuatku buru-buru meraihnya. "Ah, kakak pasti,"
pikirku. Setelah kulihat dilayar, ternyata Hadi yang muncul. "Ki, ntar sekalian bawain catatan
sejarah minggu kemarin ya." Kata Hadi dalam SMSnya. Lagi-lagi si Hadi
pinjem bukuku. aku balas saja dengan satu huruf. Tapi, sebelum sms balasan
untuk Hadi terkirim, sms dari kakak akhirnya masuk ke handphoneku. Kakak bilang
kalo 20 menit lagi nyampe rumah. Aku segera cuci muka dan siap-siap.
"Ki, Ayo." Panggil Kak Re.
Diluar perkiraan, Kak Re nyampe 15 menit.
"Bentar, Kak." Teriakku dari
dalam kamar. Akhirnya aku butuh waktu 2 menit untuk keluar kamar. Dalam waktu 2
menit itu, ternyata Kak Re sudah ganti baju dan siap dengan helmnya.
"Kok, cepet sih? Katanya jam
4," Tanyaku tiba-tiba.
"Iya, cepetan ah." Kata Kakak
tanpa menjawab pertanyaanku.
Butuh waktu 20 menit untuk sampai di
Jiro Radio. Di ruang tunggu, aku melihat seseorang yang aku kenal. Ah, ternyata
firasatku kemarin malam benar. Kakak kenal Dika dan Hadi. Belum sempat aku
menyapa, Hadi sudah menyapa duluan.
"Kak Reza kakaknya Kiki, ya?," Tanya
Hadi dengan nada sedikit kaget.
"Eh, kiki temenmu ya? Berarti kamu
yang ngasih tau kiki kalo hari ini kita ada acara di sini?," Kakak malah
balik nanya.
"Hm, iya sih. Wahaha dunia ini
sempit ya. Sampe adiknya Kak Reza aja kita enggak tahu" Kata Hadi sambil
tertawa.
"Haha kamu enggak nanya sih. Oya,
Kak Re mau check sound dulu, kamu tunggu di depan ruang rekaman aja ya."
Kata Kak Re random sambil menunjukkan arah padaku. Aku yang masih sedikit kaku,
cuma bisa bilang ya ke kakak.
Kepergian 4 orang tadi menyisakan banyak
pertanyaan di kepalaku. Aku tidak mengerti kenapa kakak bisa kenal Hadi dan
Dika. Kakak juga tidak pernah menyebut nama mereka. Apalagi Hadi kan les bareng
aku. Kalo sudah kenal lama berarti seharusnya aku tahu kalo kakak kenal Hadi.
Dan Dika? Hm, sebenarnya aku akan cukup senang kalo kakak ternyata kenal Dika.
Setidaknya informasi tentang Dika bisa aku dapat dari kakak. Sedangkan satu
orang tadi, aku tidak kenal sama sekali. Tapi sepertinya aku sedikit familiar
dengan wajahnya. Ah sudahlah mendingan nanti aku tanya ke kakak saja. Dengan
berbekal petunjuk dari kakak tadi, aku sekarang sudah berdiri di depan ruang
kaca yang didepannya bertuliskan "ruang rekaman". Kakak dan 3 orang
tadi sedang duduk dengan headphone di telinga. Sepertinya mereka sedang
mendengarkan arahan dari seorang kakak laki-laki yang mungkin adalah host dari
acara ini. Ada gitar dan bass di antara Dika dan seorang yang tidak kukenal
tadi. Sepertinya, Dika adalah gitaris di band itu. Seorang yang tidak aku kenal
itu mungkin adalah bassist. Hadi jelas adalah drummer. Sedangkan kakak? Hah?
Benarkah dia adalah vokalis? Ah, aku belum pernah mendengar kakak menyanyi sih.
Entahlah, aku dengarkan saja siaran ini sampai selesai.
"Yey, jumpa
lagi dengan Reno Moreno di acara Ju-Ro-Ku, Jmusic on Jiro Radio. Kali ini saya
enggak sendirian. Yeah, di studio sudah ada 4 orang keren yang sangat
apresiatif dengan Jmusic. Yak, mereka adalah Left Side. Seperti apa bentuk
apresiasi mereka terhadap Jmusic, mari kita kupas lebih dalam." Kalimat pembuka
tersebut mengawali acara yang disebut dengan Ju-Ro-Ku itu. Setelah acara
dibuka, kak Reno memutarkan satu lagu sebagai pembuka.
Perbincangan dimulai dengan perkenalan
Left Side. Kak Re menjelaskan dengan baik mulai dari sejarah terbentuk hingga
posisi masing-masing personil. Oh iya, ternyata satu orang yang belum kuketahui
namanya tadi adalah teman sekelas kakak sekaligus tetangganya Dika. Namanya
Fajar. Kak Fajar ini ternyata pernah nginep dirumah. Makanya aku sedikit familiar
dengan wajahnya. Kak Fajar dan Dika terlihat sangat antusias. Baru pertama kali
ini aku melihat Dika benar-benar berbicara dengan bersemangat. Dia bahkan 2
kali lebih cerewet daripada Hadi. Apalagi saat ditanya tentang hubungan antara
cita-citanya dengan Jmusic, dia terlihat begitu bersinar. Pandangannya tajam
seolah menegaskan bahwa dia benar-benar memiliki tekad yang kuat. Lalu dengan
senyum yang terkembang, dia menjawab dengan sangat optimis. Sekilas, dia
terlihat seperti Ryoma Echizen saat bermain tennis. Dan saat itu juga, dia
terlihat keren dimataku.
Acara yang berlangsung 20 menit itu
berakhir dengan lagu Link dan Spirit Dream Inside milik L'Arc en Ciel yang
dibuat medley. Fakta penting yang aku dapatkan dari acara ini adalah kakak
ternyata memiliki kemampuan menyanyi yang cukup baik. Setidaknya suaranya tidak
tenggelam ditengah alunan musik. Dari beberapa band cover L'Arc en Ciel yang
aku ketahui, hampir semua vokalis tidak bisa mengimbangi suara instrument
musiknya. Hal yang terjadi akhirnya adalah seperti mendengar musik tanpa vocal.
Fakta lain yang lebih penting adalah Dika sangat terobsesi ke Jepang. Sama
seperti aku, dia mulai mencintai Jepang karena hasil karya, daya, dan upaya
yang dituangkan dalam seni dan budaya mereka. Jpop dan anime yang membuatnya
benar-benar jatuh cinta dengan Jepang. Koleksi Jpop dan anime miliknya bahkan
telah memakan 2 hardisk berukuran 1 tera. Aku benar-benar terpukau dengan apa
yang dia katakan tadi.
Selesai acara, mereka keluar
bersama-sama. Aku yang dari tadi duduk di sofa langsung berdiri untuk
memberikan apresiasi atas perform yang cukup bagus tadi. Tapi lagi-lagi, Hadi
langsung merebut kesempatanku untuk berbicara lebih dulu.
"Gimana perform kita tadi,
ki?" Katanya bersemangat. Si cerewet sudah kembali normal, batinku.
"Hm, lumayan. setidaknya suara
vokalnya enggak kalah sama suara musiknya." Kataku sambil melirik Kak
Reza.
"Aku kaget lho, Kak Reza bisa
nyanyi. Perasaan dirumah jarang banget teriak-teriak." Sambil tersenyum
aku menyenggol kakak yang ada disampingku. Tiba-tiba suara yang jarang aku
dengar muncul.
"Iya, aku rada takut di Spirit
Dream Inside tadi. Soalnya pas latihan tadi suaranya nggak nyampe."
Sambung Dika. Dengan tersenyum dia melanjutkan, "Tapi untunglah, Kak Reza
benar-benar berusaha keras. Hehe on air
soalnya." Kak Reza akhirnya angkat bicara.
"Sepakat sama Dika. Aku tadi
sebenarnya rada ragu juga. Tapi aku coba fokus dan ambil nafas dalam-dalam.
Untung nggak macet tadi. Kalo nggak bakal memalukan banget tadi." Kata Kak
Reza sambil mengelus dada.
Kami berlima tertawa melihat ekspresi
kakak.
"Eh, ada yang mau makan gak? Laper
nih." Ajak Kak Fajar.
Hadi dan Kak Re dengan serentak menjawab
iya. Aku yang masih menjadi tanggungan kakak, dengan patuh harus ikut. Akhirnya
kami pergi ke warung makan dekat Jiro Radio.
**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar