Selasa, 25 Maret 2014

Patah Hati Dua Kali (Part 2)

Bismillahirrakhmanirrakhim..

Halloooo~
This is part 2 of the lastest story. I wonder the post was broke cause the space does not loud.

Enjoy~


**

Are you feeling fine~
Suara Hyde yang muncul lewat speaker handphoneku membuatku buru-buru meraihnya. "Ah, kakak pasti," pikirku. Setelah kulihat dilayar, ternyata Hadi yang muncul. "Ki, ntar sekalian bawain catatan sejarah minggu kemarin ya." Kata Hadi dalam SMSnya. Lagi-lagi si Hadi pinjem bukuku. aku balas saja dengan satu huruf. Tapi, sebelum sms balasan untuk Hadi terkirim, sms dari kakak akhirnya masuk ke handphoneku. Kakak bilang kalo 20 menit lagi nyampe rumah. Aku segera cuci muka dan siap-siap.
"Ki, Ayo." Panggil Kak Re. Diluar perkiraan, Kak Re nyampe 15 menit.
"Bentar, Kak." Teriakku dari dalam kamar. Akhirnya aku butuh waktu 2 menit untuk keluar kamar. Dalam waktu 2 menit itu, ternyata Kak Re sudah ganti baju dan siap dengan helmnya.
"Kok, cepet sih? Katanya jam 4," Tanyaku tiba-tiba.
"Iya, cepetan ah." Kata Kakak tanpa menjawab pertanyaanku.

Butuh waktu 20 menit untuk sampai di Jiro Radio. Di ruang tunggu, aku melihat seseorang yang aku kenal. Ah, ternyata firasatku kemarin malam benar. Kakak kenal Dika dan Hadi. Belum sempat aku menyapa, Hadi sudah menyapa duluan.
 "Kak Reza kakaknya Kiki, ya?," Tanya Hadi dengan nada sedikit kaget.
"Eh, kiki temenmu ya? Berarti kamu yang ngasih tau kiki kalo hari ini kita ada acara di sini?," Kakak malah balik nanya.
"Hm, iya sih. Wahaha dunia ini sempit ya. Sampe adiknya Kak Reza aja kita enggak tahu" Kata Hadi sambil tertawa.
"Haha kamu enggak nanya sih. Oya, Kak Re mau check sound dulu, kamu tunggu di depan ruang rekaman aja ya." Kata Kak Re random sambil menunjukkan arah padaku. Aku yang masih sedikit kaku, cuma bisa bilang ya ke kakak.

Kepergian 4 orang tadi menyisakan banyak pertanyaan di kepalaku. Aku tidak mengerti kenapa kakak bisa kenal Hadi dan Dika. Kakak juga tidak pernah menyebut nama mereka. Apalagi Hadi kan les bareng aku. Kalo sudah kenal lama berarti seharusnya aku tahu kalo kakak kenal Hadi. Dan Dika? Hm, sebenarnya aku akan cukup senang kalo kakak ternyata kenal Dika. Setidaknya informasi tentang Dika bisa aku dapat dari kakak. Sedangkan satu orang tadi, aku tidak kenal sama sekali. Tapi sepertinya aku sedikit familiar dengan wajahnya. Ah sudahlah mendingan nanti aku tanya ke kakak saja. Dengan berbekal petunjuk dari kakak tadi, aku sekarang sudah berdiri di depan ruang kaca yang didepannya bertuliskan "ruang rekaman". Kakak dan 3 orang tadi sedang duduk dengan headphone di telinga. Sepertinya mereka sedang mendengarkan arahan dari seorang kakak laki-laki yang mungkin adalah host dari acara ini. Ada gitar dan bass di antara Dika dan seorang yang tidak kukenal tadi. Sepertinya, Dika adalah gitaris di band itu. Seorang yang tidak aku kenal itu mungkin adalah bassist. Hadi jelas adalah drummer. Sedangkan kakak? Hah? Benarkah dia adalah vokalis? Ah, aku belum pernah mendengar kakak menyanyi sih. Entahlah, aku dengarkan saja siaran ini sampai selesai.

"Yey, jumpa lagi dengan Reno Moreno di acara Ju-Ro-Ku, Jmusic on Jiro Radio. Kali ini saya enggak sendirian. Yeah, di studio sudah ada 4 orang keren yang sangat apresiatif dengan Jmusic. Yak, mereka adalah Left Side. Seperti apa bentuk apresiasi mereka terhadap Jmusic, mari kita kupas lebih dalam." Kalimat pembuka tersebut mengawali acara yang disebut dengan Ju-Ro-Ku itu. Setelah acara dibuka, kak Reno memutarkan satu lagu sebagai pembuka.
Perbincangan dimulai dengan perkenalan Left Side. Kak Re menjelaskan dengan baik mulai dari sejarah terbentuk hingga posisi masing-masing personil. Oh iya, ternyata satu orang yang belum kuketahui namanya tadi adalah teman sekelas kakak sekaligus tetangganya Dika. Namanya Fajar. Kak Fajar ini ternyata pernah nginep dirumah. Makanya aku sedikit familiar dengan wajahnya. Kak Fajar dan Dika terlihat sangat antusias. Baru pertama kali ini aku melihat Dika benar-benar berbicara dengan bersemangat. Dia bahkan 2 kali lebih cerewet daripada Hadi. Apalagi saat ditanya tentang hubungan antara cita-citanya dengan Jmusic, dia terlihat begitu bersinar. Pandangannya tajam seolah menegaskan bahwa dia benar-benar memiliki tekad yang kuat. Lalu dengan senyum yang terkembang, dia menjawab dengan sangat optimis. Sekilas, dia terlihat seperti Ryoma Echizen saat bermain tennis. Dan saat itu juga, dia terlihat keren dimataku.
Acara yang berlangsung 20 menit itu berakhir dengan lagu Link dan Spirit Dream Inside milik L'Arc en Ciel yang dibuat medley. Fakta penting yang aku dapatkan dari acara ini adalah kakak ternyata memiliki kemampuan menyanyi yang cukup baik. Setidaknya suaranya tidak tenggelam ditengah alunan musik. Dari beberapa band cover L'Arc en Ciel yang aku ketahui, hampir semua vokalis tidak bisa mengimbangi suara instrument musiknya. Hal yang terjadi akhirnya adalah seperti mendengar musik tanpa vocal. Fakta lain yang lebih penting adalah Dika sangat terobsesi ke Jepang. Sama seperti aku, dia mulai mencintai Jepang karena hasil karya, daya, dan upaya yang dituangkan dalam seni dan budaya mereka. Jpop dan anime yang membuatnya benar-benar jatuh cinta dengan Jepang. Koleksi Jpop dan anime miliknya bahkan telah memakan 2 hardisk berukuran 1 tera. Aku benar-benar terpukau dengan apa yang dia katakan tadi.
Selesai acara, mereka keluar bersama-sama. Aku yang dari tadi duduk di sofa langsung berdiri untuk memberikan apresiasi atas perform yang cukup bagus tadi. Tapi lagi-lagi, Hadi langsung merebut kesempatanku untuk berbicara lebih dulu.
"Gimana perform kita tadi, ki?" Katanya bersemangat. Si cerewet sudah kembali normal, batinku.
"Hm, lumayan. setidaknya suara vokalnya enggak kalah sama suara musiknya." Kataku sambil melirik Kak Reza.
"Aku kaget lho, Kak Reza bisa nyanyi. Perasaan dirumah jarang banget teriak-teriak." Sambil tersenyum aku menyenggol kakak yang ada disampingku. Tiba-tiba suara yang jarang aku dengar muncul.
"Iya, aku rada takut di Spirit Dream Inside tadi. Soalnya pas latihan tadi suaranya nggak nyampe." Sambung Dika. Dengan tersenyum dia melanjutkan, "Tapi untunglah, Kak Reza benar-benar berusaha keras. Hehe on air soalnya." Kak Reza akhirnya angkat bicara.
"Sepakat sama Dika. Aku tadi sebenarnya rada ragu juga. Tapi aku coba fokus dan ambil nafas dalam-dalam. Untung nggak macet tadi. Kalo nggak bakal memalukan banget tadi." Kata Kak Reza sambil mengelus dada.
Kami berlima tertawa melihat ekspresi kakak.
"Eh, ada yang mau makan gak? Laper nih." Ajak Kak Fajar.
Hadi dan Kak Re dengan serentak menjawab iya. Aku yang masih menjadi tanggungan kakak, dengan patuh harus ikut. Akhirnya kami pergi ke warung makan dekat Jiro Radio.

**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aikotoba~