Yeaaah~
This part is the lastest of story~
Hahaha some how like fail to make angst for love story so why did I call it funny XD
Lets Enjoyy~
**
"Mau pesen apa?" Tanya kak
Fajar.
Setelah melihat daftar menu, kakak dan Hadi
bilang dengan serentak, "Nasi Goreng." Aku memilih capcay disusul
dengan Dika dengan menu yang sama pula.
"Minum?" Tanya Kak Fajar lagi.
"Es Teh." Kata Kakak. Aku
ngikut kakak. Sedangkan Dika dan Hadi akhirnya memutuskan untuk memilih es teh
juga.
Ini pertama kalinya aku makan bareng
dengan laki-laki selain kakak. Sedikit grogi, sih. Apalagi semuanya laki-laki
dan aku sendirian. Aku duduk disamping kakak. Dika dan Hadi duduk berhadapan
dengan aku dan kakak. Sedangkan Kak Fajar ada disamping Kak Re.
"Eh, beneran koleksi anime sama
Jpop mu sampe 1 tera?" Tanya Kak Re ke Dika sekaligus pembuka obrolan
makan bareng ini.
"Eh, iya kak." Jawab Dika
sambil tertawa malu.
"Wah, keren. Kamu punya apa aja.
Barter dong." Tawar Kak Re.
"Banyak sih. Kak Reza mau yang
apa?," Kata Dika sambil tersenyum.
"Kamu punya PVnya laruku nggak?
Oya, punya kamen rider nggak?"
"Lengkap, kak. Laruku world tour
aku punya beberapa. Kalo kamen rider aku cuma punya kamen rider kuuga sampai
kamen rider agito aja."
Obrolan kakak dan Dika akhirnya
mendominasi perbincangan. Kak Fajar yang juga fans berat tokusatsu merasa perlu
ikut campur dalam perbincangan itu. Kamen riderpun menjadi topik utama. Orang
yang paling kasihan dalam obrolan ini adalah Hadi. Walaupun laki-laki, Hadi
tidak terlalu suka tokusatsu. Dia lebih suka dorama. Menurutnya tokusatsu
adalah film yang tidak masuk akal. Kamen Rider dan teman-temannya itu merupakan
hasil imajinasi orang Jepang yang terlalu tinggi. Sebenarnya aku cukup setuju
dengan pernyataan Hadi, sih. Tapi aku ragu, jangan-jangan alasan dia tidak suka
tokusatsu sebenarnya karena dia takut dengan monster-monsternya. Ah, alasan ini
benar-benar menjatuhkan pernyataannya yang keren tadi.
Aku sendiri mengenal tokusatsu dari
kakak. Kak Re bahkan sangat mengagumi tokoh bernama Rei Kamioka dalam Kamen
Rider Blade. Saking kagumnya, sejak saat itu dia mengubah nama panggilannya
menjadi Rei. Karena sudah terbiasa, akhirnya sampai sekarang aku keterusan
memanggil kakak dengan satu sukukata nama depan kakak. Gara-gara Kak Re, aku
juga ikut menerapkan teori itu. Dulu ketika jamannya Inuyasha naik daun, aku
cukup terpesona dengan salah satu tokohnya. Kikyo, menurutku adalah tokoh keren
dalam film itu karena dia terkadang dingin juga kadang lembut tetapi sikapnya
tidak pernah tergambar dalam wajahnya. Pernah sekali aku meniru dengan memaksa
ibu untuk membelikan costum anime dengan karakter Kikyo. Setelah berhasil
membujuk ibu dan costu ada ditangan, ternyata kostum dengan karakter ini tidak
cocok untukku. Waktu itu kakak hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihatku
dengan kostum kedodoran. Wajahku yang merah padam menurunkan keinginanku untuk
melakukan pembelaan. Akhirnya kakak mengakhiri sesi tertawanya dengan mengusap
rambutku lalu pergi sambil bilang, "dasar kikiyokiyooo~.."
"Kalo Jpop kamu suka sama siapa
aja, Dika?"
"Hmm, banyak sih sebenarnya. Tapi
kalo yang bener-bener suka nek cowok aku suka L'Arc en Ciel sama Aqua Timez.
Nek yang perempuan aku suka AKB48."
"Hoo, AKB48 ya. Aku cuma tau Atsuko
Maeda aja. Dia kan pernah main di Hana Kimi 2011, kan?"
Mendengar itu Hadi langsung
nyambung,"Iya, yang jadi Mizuki. Kalo di Hana Kimi 2007 kan yang jadi Maki
Horikita."
"Jiaah jago juga kamu ya,"
Komentar kakak dengan pernyataan Hadi. "Si Kiyo lumayan update kalo
masalah AKB48." Lanjut kakak sambil melihatku.
"Lho, kamu suka AKB48 juga
ya?" Tanya Dika. Wwah, ini pertama kalinya dia mengajakku bicara.
"Hehe ya lumayan sih." Jawabku
pendek. Sebenarnya karena sedikit grogi jadi jawabannya terlalu pendek. Dengan
cepat Dika langsung menyambung lagi,"Oshimu siapa?"
"Mayu Watanabe."
"Waah, sama. Aku juga. Kamu lihat
AKBingo yang mbahas Mayuyu nggak? Sumpah, Mayuyu lucu banget." Dika
berbicara seperti angin yang bertiup kencang.
"Eh, yang mana?" Akhirnya aku
malah terbawa kata-katanya Dika sehingga secara tidak sadar aku mulai
mengingat-ingat setiap episode AKBingo yang ada Mayu Watanabe.
"Itu lho yang dia ngobrolin anime
sama temannya terus dia menjelaskan dengan panjang lebar." Kata Dika
seperti memberikan pancingan.
"Ah! Iya, pas dia konsen dengan
pembicaraan anime itu tiba-tiba dia dipanggil sama MC terus bilang 'haik'
padahal satu detik yang lalu dia masih membicarakan anime dengan
berapi-api." Aku berusaha menjelaskan dengan panjang lebar sambil
tersenyum.
"Hahaha iyoooo. Benaar-benar lucu
kan." Dia menerima penjelasanku dengan tertawa lega.
AKB48 telah berhasil mengubah topik
pembicaraan yang semula adalah tokusatsu. Perubahan topik ini juga mengubahku
yang awalnya diam saja menjadi jarang diam. Aku, Dika, dan Hadi akhirnya
menjadi orang yang paling banyak bicara. Sedangkan Kak Re dan Kak Fajar menjadi
pendengar setia yang sesekali bilang, "Hoo", 'Eehh",
"Masaaak?", "Waah baru tahu aku".
Saat itu, tiba-tiba saja aku merasa
dekat dengannya. Kami berbicara dengan bebas. Membicarakan hal yang sama.
Tertawa bersama. Tiba-tiba saja kami saling menanyakan hal apa yang disukai.
Seperti berusaha untuk saling mengenal lebih dekat. Di jalan pulang, hanya satu
lagu yang kuputar terus berulang-ulang. Lagu yang benar-benar menggambarkan
perasaanku saat ini.
Don’t you
know, there’s nothing I can do,
I gotta get
to know you
I have to see
this through I want it all
I gotta let
you know, this feeling is so true
Coz I know
that you’re One of a kind
And I can’t
get you out of my mind
What would
you say if I was to walk up to you
Would you
feel the same if I told you this feeling is true
I wonder what
you would do
**
"Kiki, kamu udah liat AKBingo
episode 188?" Tanya Dika dengan bersemangat.
"Udah
dong. Yang ada 4 wota itu kan?" Kataku sedikit sombong.
"Mayuyu
kawaii ya." Dia berkata dengan bahagia. Matanya terlihat sipit ketika dia
tersenyum. Wajahnya tersipu malu ketika mengatakan 'kawaii'. Aku hanya
membalasnya dengan tertawa kecil dan segera duduk di mejaku. Sebelum aku
meletakkan tasku di meja, Dika sudah meletakkan netbooknya didepanku.
"Oya, kamu udah liat ini belum?" Tangannya bergerak dengan lincah
diatas pad. Dengan cepat dia menemukan apa yang dia cari. Sekilas aku melihat
isi netbooknya. Terdapat banyak folder yang namanya mengandung kata 'AKB48'.
Diantara banyak folder itu, kata 'mayuyu' yang paling banyak. Sepertinya dia
memang fans berat mayuyu.
Aku mendengarkan dengan saksama apa yang
dia katakan. Bahkan aku tidak punya kesempatan untuk menyelanya. Dia berbicara
seolah-olah dia sedang membicarakan orang yang dia cintai. Terlihat beberapa
kali wajahnya memerah saat menunjukkan beberapa video tentang Mayuyu. Selain
itu, dia juga menunjukkan koleksi foto-foto Mayuyu dengan berbagai pose dan
model baju. Dia benar-benar 48family.
Sebenarnya koleksiku hampir sama
lengkapnya dengannya. Sama seperti L'Arc en Ciel dimana aku sangat suka Tetsu
melebihi member lain. Di AKB48, yang kusuka hanya Mayu Watanabe. Aku rajin
mengunjungi blog officialnya. Aku selalu mengecek official youtube bahkan situs
berbahasa Jepang sekalipun untuk mengupdate berita tentangnya. Aku patah hati.
Ternyata ada orang yang lebih mencintai Mayuyu daripada aku. Rasanya sedih,
sih. Tapi ya sudahlah, namanya juga idol. Hanya dengan melihat Mayuyu bahagia
saja aku sudah cukup senang. Tapi tetap saja, aku patah hati hari ini.
**
Walaupun aku patah hati karena Mayuyu,
bukan berarti aku tidak normal. Aku masih normal, kok. Malah sepertinya rasa
sukaku terhadap Dika semakin bertambah. Aku merasa ada sebuah tali yang
menghubungkan kami berdua. Jangan-jangan aku memang berjodoh dengannya.
Imajinasiku semakin bertambah kalo tiba-tiba wajah Dika terlintas dipikiranku.
"Woi", Sebuah suara
menghancurkan imajinasiku yang sudah berkembang. Aku yang masih kaget mencoba
menoleh ke belakang.
"Haaaaahhhh Hadi sebaaal."
Kataku sambil marah-marah.
"Salahnya sore-sore ngelamun."
Dia berusaha membela diri. Aku masih saja mengomel. Tapi beberapa detik
kemudian omelanku menghilang. Sebuah pertanyaan penting muncul di kepalaku. Dan
menurutku, pertanyaan itu hanya mungkin bisa dijawab oleh Hadi. Wajahku pun
kembali riang seketika.
Mumpung kelas masih sepi, Aku pun mulai
melaksanakan misi penting ini. "Di, mau tanya dong." Hadi yang sibuk
dengan Handphonenya menjawab,"Apa?"
"Eh, Dika pernah suka sama orang
nggak?" Tanyaku simpel. Mendengar pertanyaanku dia langsung tertawa.
"Hahaha pantes!! Kamu suka sama
Dika ya?" Dia bahkan meledekku sambil tertawa. Waah, apa-apaan ini. Kenapa
dia tahu, dengan cepat aku meresponnya dalam hati. Tapi aku berusaha menjaga
diri supaya tidak kelihatan.
"Eh, kok bisa?", aku berusaha
membantah kata-kata Hadi.
"Ya Ampun kelihatan kali. Aku
sering lihat kamu mencuri pandang dia. Mau bukti?" Dia berargumen dengan
cepat. Ah, ya sudah lah, kataku dalam hati. Aku menyerah. Toh aku memang suka
sama dia. Akhirnya dengan berat hati aku mengaku.
"Hm..lebih baik jangan suka sama
dia deh, Ki."
"Eh, lho kok?"
"Kamu tahu kan kalo dia suka sama
Mayuyu?"
"Yoi, aku juga suka sama Mayuyu
kok. Hehehe", aku bahkan menjawab sambil tertawa. Tapi akhirnya penjelasan
Hadi yang panjang lebar menghentikanku untuk tertawa. Bahkan mimik mukaku
langsung berubah. Rasanya sedih. Lebih sedih daripada tahu bahwa ada yang lebih
suka Mayuyu lebih dari aku. Aku patah hati.
Ternyata Dika sudah punya pacar.
Pacarnya bahkan lebih cantik daripada aku. Kata Hadi sudah sejak awal kelas 1
mereka pacaran. Aku cukup kenal sama pacarnya. Tapi Awal kelas 2 kemarin,
pacarnya cerita ke Hadi kalo dia sudah putus sama Dika. Dia cerita kalo Dika
benar-benar jahat padanya. Padahal pas awal pacarnya bilang suka ke Dika,
Dika bilang iya. Tapi ternyata
sebenarnya sama sekali Dika nggak pernah suka sama pacarnya. Dika hanya suka
Mayuyu. Tidak yang lain. Bahkan pacarnya sekalipun. Mata dan pikiran Dika hanya
terfokus pada Mayuyu, tidak dengan yang lain.
"Aku pernah nanya ke Dika gini
dulu, Dik, kalo misalnya ada orang yang
suka sama kamu melebihi rasa sukamu terhadap Mayuyu gimana?' Dia menjawab
apa coba? Dia tetap memilih Mayuyu bahkan jika Mayuyu kenal dan menolaknya
sekalipun." Jelas Hadi.
Aku hanya bisa diam. Aku patah hati dua
kali. Aku tidak bisa menyalahkan Mayuyu karena aku juga menyukai Mayuyu. Aku
juga menyukai Dika, orang yang pertama kali membuat mataku terbuka dengan
segala hal yang ada dalam dirinya. Tapi aku benar-benar patah hati. Orang yang
kusukai membuatku patah hati dan orang yang membuatku patah hati tidak bisa
kubenci karena aku sangat menyukainya. Aku patah hati.
My
painful love, I'm hurting as if I cut my skin
I
try to hold it in but soundlessly its hurt
My
aching love, its bitter as if I swallowed poison
I
try to smile but I'm fantly aching
~***~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar