I found the story so suddenly while I want to looking for some file. This story was so funny, like high school story. Because of it, I suddenly think to post this story. Basically, I wrote this for story challenge. Yeah, it was just participated~
Enjoy~
####
Seperti biasa, aku selalu bosan dengan
pelajaran matematika di akhir jam menjelang pulang. Selalu saja cuma ngerjain
soal. Beruntung kalau soalnya dibahas bareng-bareng. Lah, boro-boro dibahas,
dilihat sama bapaknya aja enggak. Makanya aku bosen. Toh juga sebenarnya
soal-soal yang ada dalam buku udah kukerjain semua, jadi tambah bosen deh.
Hm, sebenarnya sejak awal semester
kemarin, aku selalu mengamati seseorang. Orang itu cukup terkenal sih.
Biasalah, anak band gimana enggak terkenal. Dia duduk tepat didepanku. Hal yang
aku tahu adalah dia selalu membawa gitar setiap hari sabtu. selain itu, dia
juga jarang ngobrol dengan temen
sekelas. Paling sering sama teman semeja. Tapi anehnya, kalo udah ngobrol sama
teman semeja pasti dia terlihat heboh. Padahal dia selalu memasang tampang
dingin dengan siapa saja yang ngobrol dengan dia. Aku? Hmm..aku belum pernah
ngobrol sama dia. Dia jarang nengok ke belakang sih. Udah duduknya didepan
sendiri, eh jarang nengok ke belakang lagi. Benar-benar membuatku curiga. Dari
situlah aku selalu mengamati dirinya.
Nama panggilannya Dika. Nama panjangnya,
ah nanti aku lihat di buku absen deh. Hari ini dia terlihat serius sekali
mengerjakan soal. Temannya juga. Ah, jadi tambah bosen. Malangnya nasibku
meratapi setengah jam yang tersisa sampai bel pulang berdering. Akhirnya aku
cuma bengong-bengong tanpa tahu mau ngapain. Mataku berkeliaran mencoba
menemukan sesuatu yang enak untuk dipandang selama 30 menit. usahaku ternyata
sia-sia. Semuanya terlihat biasa saja. Ingin segera memanggul tas dan berlari
menuju pintu untuk keluar dari runag kelas yang membosankan ini. Baru dua detik
pikiran itu pergi, aku melihat hal yang tidak biasanya ada disamping kursi yang
ada di depanku. Ada gitar!! Bukankah ini hari kamis. Apa dia mau manggung? Apa
latihannya ganti hari? Waah, ini berita penting," kataku dalam hati.
Insting detektifku yang begitu besar akhirnya mendorongku untuk mencari tahu
hal apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya. Aku mencoba membenarkan tempat
duduk dengan berdiri sejenak. Terlihat beberapa tangga nada tergambar dari
pulpen yang dia pegang. Ternyata sejak tadi dia sedang mengaransemen sebuah
lagu. Temannya juga. Ah, harusnya aku menyadarinya sejak tadi.
Dia
terlihat tenang. Rambutnya yang cepak mirip Tetsu L'Arc en Ciel itu sesekali
jatuh menutupi matanya. Namun, rambut tipis itu akan kembali dengan sekali
gerakan kepala. Tangannya terkadang berhenti menulis. Matanya sejenak
teralihkan ke jendela yang ada disampingnya. Pemandangan itu benar-benar
membuatku tertarik. Bahkan aku hampir berpikir bahwa aku harus mengabadikan
pemandangan ini. Sayangnya, bel pulang sudah berdering. Bel sekolah ini memang
selalu berdering disaat yang tidak tepat.
"Udah selesai, dik?"
"Udah, sih. Tinggal finishing,
doang. Kamu gimana?"
"Sip! Tinggal ngepasin nada aja
entar. Oya, ntar mampir ke rumah dulu ya. Aku lupa bawa stick."
"Dasar! Kayak gini, nih yang sering
bikin telat latihan."
"Jadi beneran latihan, ya,"
Sambungku dalam hati. Sejak tadi aku berusaha mencuri dengar pembicaraan
mereka. Tentu saja agar tidak ketahuan, aku tetap merapikan isi tas sebelum
menempel di punggungku. Sekilas saat aku melirik dia, wajahnya terlihat ceria
dan bersemangat. Dia terlihat begitu menyenangkan ketika tersenyum. Dalam
beberapa detik aku merasa tidak sadarkan diri.
"Ki, besok lesnya dipindah jam 7
malem kan?," Suara Hadi menyadarkanku. Aku yang masih dalam keadaan
terkejut menjadi terbata-bata menjawabnya.
"Oh, ah, iya. Kemarin sih mas Reno
bilang gitu."
"Sip deh! Besok kalo kamu ada waktu
dateng ke Jiro Radio ya. Kita jadi bintang tamu di sana." Undangnya.
"Hee? Bintang tamu? emang ada acara
apa sih?", Tanyaku curiga.
"Haha maksudnye siaran gitu. Kita
perform juga kok. Ya nggak, dik." Lanjutnya. Melihat Hadi yang menyikut
tangan Dika, aku langsung berteriak gembira dalam hati. Jangan-jangan ini
adalah takdir. Impianku untuk liat dia ngeband terwujud. Terimakasih, Tuhan.
"Jam berapa sih acaranya?" Aku
berusaha menenangkan diri. Tenanglah, Kiyo. Jangan sampai dia tahu kamu
mengharapkannya, kataku dalam hati.
"Besok jam 4 sore. Dateng lho
ya." Dia menjawab sambil berlari mengejar Dika yang meninggalkan kami
beberapa detik lalu. Tanpa kujawab, aku langsung mengangguk tanda setuju.
Sambil berjalan keluar gerbang sekolah, aku hanya tersenyum sendiri. Terserah
orang yang liat mau bilang apa. Hari ini aku bahagia, Kawan.
**
Di luar dugaan, ternyata Kak Reza besok
juga dateng di Jiro Radio. Katanya ada urusan di sana. Akhirnya besok aku
dateng ke Jiro bareng kakak. Sebenarnya aku sedikit curiga, sih. Jangan-jangan
urusan itu ada kaitannya dengan Hadi sama Dika. Kalo prediksiku benar, berarti
kakak kenal sama Dika juga dong. Jika benar adanya, kakak adalah anugrah
terindah dari Tuhan yang diberikan padaku. Sekali lagi, untuk hari ini aku
benar-benar harus berterimakasih pada Tuhan. Semoga hari esok juga menjadi hari
bahagia seperti hari ini.
**
Pagi ini aku piket kelas. Karena itu,
aku berangkat rada pagian dikit. Kak Reza yang selalu setia menjadi sopirku
setuju saja aku minta berangkat pagi. Sampai di depan gerbang aku turun dari
motor. "Nanti pulang sendiri dulu ya. Kak Re ada urusan. Ntar jam 4
langsung tak jemput." Kata Kak Reza tiba-tiba. Aku mengangguk sambil
bilang,"Oke, ntar SMS aja ya." Tanpa bilang, kakak langsung
menancapkan gas sambil melambaikan tangan kepadaku.
Aku langsung berjalan menuju kelas.
Ternyata kelas masih kosong. Aku hanya menyapu beberapa bagian saja. Bagian
yang lain aku serahkan pada yang lain. Saat aku membersihkan bagian bawah
mejaku, aku melihat ada sesuatu yang tertinggal di laci meja Dika. Insting
detektifku kembali muncul untuk hal ini. Beberapa sobekan kertas, sih. Mungkin
bukan sesuatu yang menarik bagi sebagian orang. Tetapi, bagiku itu sangat
menarik. Ternyata dia suka menggambar tokoh karakter animasi. Beberapa karakter
yang dia gambar adalah karakter yang aku suka. Walaupun garis mukanya tidak
terlalu bagus, aku cukup mengapresiasi gambar miliknya. Aku pikir akan lebih
bagus lagi kalau karakternya diarsir tipis dibagian bawah mata. Ditengah aksiku
mengapresiasi gambar Dika, aku tidak sadar ada seseorang yang menegurku.
"Kamu ngapain?", tegurnya. Aku
kaget. Kata-kata apresiasi yang sudah kupikirkan buyar seketika.
"Oh, piketlah. Murid yang baik
harus melaksanakan piket, gan." Jawabku. "Tumben, kamu berangkat
pagi. Biasanya kan siang biar gak piket nyapu kelas."
Hadi memang hobi berangkat telat kalo
pas piket. Entah kenapa hari ini dia berangkat pagi. Oh iya, beruntung juga sih
Hadi yang datang. Coba kalau yang datang tadi Dika. Waduh bisa speechless aku.
Aku jarang ngobrol sama dia soalnya.
"Aku berangkat bareng Dika tadi.
Yah, beginilah kalo punya temen rajin. Jadi kebawa rajin, deh." Dengan
menjawab sambil lalu, Hadi berjalan menuju pojok kelas untuk mengambil sapu.
Mendengar jawaban Hadi, aku tersentak dan tanpa sadar ngomong,"Heh? Dika
udah dateng?".
"Ke kamar mandi kali, tadi bareng
kok masuknya."Jawab Hadi acuh. Aku pun cuma bisa mengomel dalam hati.
Bodoh sekali tadi.
"Haha ini gambar kenapa
disini." Tiba-tiba ada yang ngomong. Hadi mengambil kertas yang aku
tinggalkan di mejanya. "Dasar, Dika. Gambar jelek gini masih aja
disimpen." Lanjutnya.
Mendengar hal itu aku langsung berhenti
mengomel. Itu gambar punya Hadi ternyata. Ah, sudah kelewatan benar aku. Hal
apapun langsung mengarah ke Dika. Aku sadar, mungkin aku sudah mulai
menyukainya. Ini mirip sekali saat aku sudah mulai menyukai Tetsuya, bassist
L'Arc en Ciel. Semua hal selalu terhubung dengannya. Setiap hari selalu
mengunjungi homepagenya Tetsu.
Mendownload berbagai acara baik interview,
tour, ataupun acara televisi yang diunggah di Youtube. Ini adalah usaha
kerasku untuk benar-benar mencintai Tetsu walaupun Tetsu sudah punya istri.
Istrinya cantik, lho. Dari berbagai video yang aku punya, aku paling suka video
wawancara Tetsu bersama istrinya. Mereka begitu serasi hingga aku sempat
berpikir untuk bermimpi bisa seperti mereka. Waa sudahlah. Lupakan kiyo,
sekarang saatnya sekolah.
**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar