Selasa, 25 Maret 2014

Patah Hati Dua Kali (Part 1)

Bismillahirrakhmanirrakhim..

I found the story so suddenly while I want to looking for some file. This story was so funny, like high school story. Because of it, I suddenly think to post this story. Basically, I wrote this for story challenge. Yeah, it was just participated~

Enjoy~



####

Seperti biasa, aku selalu bosan dengan pelajaran matematika di akhir jam menjelang pulang. Selalu saja cuma ngerjain soal. Beruntung kalau soalnya dibahas bareng-bareng. Lah, boro-boro dibahas, dilihat sama bapaknya aja enggak. Makanya aku bosen. Toh juga sebenarnya soal-soal yang ada dalam buku udah kukerjain semua, jadi tambah bosen deh.
Hm, sebenarnya sejak awal semester kemarin, aku selalu mengamati seseorang. Orang itu cukup terkenal sih. Biasalah, anak band gimana enggak terkenal. Dia duduk tepat didepanku. Hal yang aku tahu adalah dia selalu membawa gitar setiap hari sabtu. selain itu, dia juga jarang ngobrol dengan  temen sekelas. Paling sering sama teman semeja. Tapi anehnya, kalo udah ngobrol sama teman semeja pasti dia terlihat heboh. Padahal dia selalu memasang tampang dingin dengan siapa saja yang ngobrol dengan dia. Aku? Hmm..aku belum pernah ngobrol sama dia. Dia jarang nengok ke belakang sih. Udah duduknya didepan sendiri, eh jarang nengok ke belakang lagi. Benar-benar membuatku curiga. Dari situlah aku selalu mengamati dirinya.
Nama panggilannya Dika. Nama panjangnya, ah nanti aku lihat di buku absen deh. Hari ini dia terlihat serius sekali mengerjakan soal. Temannya juga. Ah, jadi tambah bosen. Malangnya nasibku meratapi setengah jam yang tersisa sampai bel pulang berdering. Akhirnya aku cuma bengong-bengong tanpa tahu mau ngapain. Mataku berkeliaran mencoba menemukan sesuatu yang enak untuk dipandang selama 30 menit. usahaku ternyata sia-sia. Semuanya terlihat biasa saja. Ingin segera memanggul tas dan berlari menuju pintu untuk keluar dari runag kelas yang membosankan ini. Baru dua detik pikiran itu pergi, aku melihat hal yang tidak biasanya ada disamping kursi yang ada di depanku. Ada gitar!! Bukankah ini hari kamis. Apa dia mau manggung? Apa latihannya ganti hari? Waah, ini berita penting," kataku dalam hati. Insting detektifku yang begitu besar akhirnya mendorongku untuk mencari tahu hal apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya. Aku mencoba membenarkan tempat duduk dengan berdiri sejenak. Terlihat beberapa tangga nada tergambar dari pulpen yang dia pegang. Ternyata sejak tadi dia sedang mengaransemen sebuah lagu. Temannya juga. Ah, harusnya aku menyadarinya sejak tadi.
Dia terlihat tenang. Rambutnya yang cepak mirip Tetsu L'Arc en Ciel itu sesekali jatuh menutupi matanya. Namun, rambut tipis itu akan kembali dengan sekali gerakan kepala. Tangannya terkadang berhenti menulis. Matanya sejenak teralihkan ke jendela yang ada disampingnya. Pemandangan itu benar-benar membuatku tertarik. Bahkan aku hampir berpikir bahwa aku harus mengabadikan pemandangan ini. Sayangnya, bel pulang sudah berdering. Bel sekolah ini memang selalu berdering disaat yang tidak tepat.
"Udah selesai, dik?"
"Udah, sih. Tinggal finishing, doang. Kamu gimana?"
"Sip! Tinggal ngepasin nada aja entar. Oya, ntar mampir ke rumah dulu ya. Aku lupa bawa stick."
"Dasar! Kayak gini, nih yang sering bikin telat latihan."
"Jadi beneran latihan, ya," Sambungku dalam hati. Sejak tadi aku berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka. Tentu saja agar tidak ketahuan, aku tetap merapikan isi tas sebelum menempel di punggungku. Sekilas saat aku melirik dia, wajahnya terlihat ceria dan bersemangat. Dia terlihat begitu menyenangkan ketika tersenyum. Dalam beberapa detik aku merasa tidak sadarkan diri.
"Ki, besok lesnya dipindah jam 7 malem kan?," Suara Hadi menyadarkanku. Aku yang masih dalam keadaan terkejut menjadi terbata-bata menjawabnya.
"Oh, ah, iya. Kemarin sih mas Reno bilang gitu."
"Sip deh! Besok kalo kamu ada waktu dateng ke Jiro Radio ya. Kita jadi bintang tamu di sana." Undangnya.
"Hee? Bintang tamu? emang ada acara apa sih?", Tanyaku curiga.
"Haha maksudnye siaran gitu. Kita perform juga kok. Ya nggak, dik." Lanjutnya. Melihat Hadi yang menyikut tangan Dika, aku langsung berteriak gembira dalam hati. Jangan-jangan ini adalah takdir. Impianku untuk liat dia ngeband terwujud. Terimakasih, Tuhan.
"Jam berapa sih acaranya?" Aku berusaha menenangkan diri. Tenanglah, Kiyo. Jangan sampai dia tahu kamu mengharapkannya, kataku dalam hati.
"Besok jam 4 sore. Dateng lho ya." Dia menjawab sambil berlari mengejar Dika yang meninggalkan kami beberapa detik lalu. Tanpa kujawab, aku langsung mengangguk tanda setuju. Sambil berjalan keluar gerbang sekolah, aku hanya tersenyum sendiri. Terserah orang yang liat mau bilang apa. Hari ini aku bahagia, Kawan.
**

Di luar dugaan, ternyata Kak Reza besok juga dateng di Jiro Radio. Katanya ada urusan di sana. Akhirnya besok aku dateng ke Jiro bareng kakak. Sebenarnya aku sedikit curiga, sih. Jangan-jangan urusan itu ada kaitannya dengan Hadi sama Dika. Kalo prediksiku benar, berarti kakak kenal sama Dika juga dong. Jika benar adanya, kakak adalah anugrah terindah dari Tuhan yang diberikan padaku. Sekali lagi, untuk hari ini aku benar-benar harus berterimakasih pada Tuhan. Semoga hari esok juga menjadi hari bahagia seperti hari ini.
**

Pagi ini aku piket kelas. Karena itu, aku berangkat rada pagian dikit. Kak Reza yang selalu setia menjadi sopirku setuju saja aku minta berangkat pagi. Sampai di depan gerbang aku turun dari motor. "Nanti pulang sendiri dulu ya. Kak Re ada urusan. Ntar jam 4 langsung tak jemput." Kata Kak Reza tiba-tiba. Aku mengangguk sambil bilang,"Oke, ntar SMS aja ya." Tanpa bilang, kakak langsung menancapkan gas sambil melambaikan tangan kepadaku.
Aku langsung berjalan menuju kelas. Ternyata kelas masih kosong. Aku hanya menyapu beberapa bagian saja. Bagian yang lain aku serahkan pada yang lain. Saat aku membersihkan bagian bawah mejaku, aku melihat ada sesuatu yang tertinggal di laci meja Dika. Insting detektifku kembali muncul untuk hal ini. Beberapa sobekan kertas, sih. Mungkin bukan sesuatu yang menarik bagi sebagian orang. Tetapi, bagiku itu sangat menarik. Ternyata dia suka menggambar tokoh karakter animasi. Beberapa karakter yang dia gambar adalah karakter yang aku suka. Walaupun garis mukanya tidak terlalu bagus, aku cukup mengapresiasi gambar miliknya. Aku pikir akan lebih bagus lagi kalau karakternya diarsir tipis dibagian bawah mata. Ditengah aksiku mengapresiasi gambar Dika, aku tidak sadar ada seseorang yang menegurku.
"Kamu ngapain?", tegurnya. Aku kaget. Kata-kata apresiasi yang sudah kupikirkan buyar seketika.
"Oh, piketlah. Murid yang baik harus melaksanakan piket, gan." Jawabku. "Tumben, kamu berangkat pagi. Biasanya kan siang biar gak piket nyapu kelas."
Hadi memang hobi berangkat telat kalo pas piket. Entah kenapa hari ini dia berangkat pagi. Oh iya, beruntung juga sih Hadi yang datang. Coba kalau yang datang tadi Dika. Waduh bisa speechless aku. Aku jarang ngobrol sama dia soalnya.
"Aku berangkat bareng Dika tadi. Yah, beginilah kalo punya temen rajin. Jadi kebawa rajin, deh." Dengan menjawab sambil lalu, Hadi berjalan menuju pojok kelas untuk mengambil sapu. Mendengar jawaban Hadi, aku tersentak dan tanpa sadar ngomong,"Heh? Dika udah dateng?".
"Ke kamar mandi kali, tadi bareng kok masuknya."Jawab Hadi acuh. Aku pun cuma bisa mengomel dalam hati. Bodoh sekali tadi.

"Haha ini gambar kenapa disini." Tiba-tiba ada yang ngomong. Hadi mengambil kertas yang aku tinggalkan di mejanya. "Dasar, Dika. Gambar jelek gini masih aja disimpen." Lanjutnya.
Mendengar hal itu aku langsung berhenti mengomel. Itu gambar punya Hadi ternyata. Ah, sudah kelewatan benar aku. Hal apapun langsung mengarah ke Dika. Aku sadar, mungkin aku sudah mulai menyukainya. Ini mirip sekali saat aku sudah mulai menyukai Tetsuya, bassist L'Arc en Ciel. Semua hal selalu terhubung dengannya. Setiap hari selalu mengunjungi homepagenya Tetsu. Mendownload berbagai acara baik interview, tour, ataupun acara televisi yang diunggah di Youtube. Ini adalah usaha kerasku untuk benar-benar mencintai Tetsu walaupun Tetsu sudah punya istri. Istrinya cantik, lho. Dari berbagai video yang aku punya, aku paling suka video wawancara Tetsu bersama istrinya. Mereka begitu serasi hingga aku sempat berpikir untuk bermimpi bisa seperti mereka. Waa sudahlah. Lupakan kiyo, sekarang saatnya sekolah.
**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aikotoba~