Bismillahhirokhmanirrakhim..
Kemarin akio dan teman2 baru saja dari Bojong. Sebuah desa yang merupakan bagian dari perjalanan kuliah akio, bagian dari kehidupan akio juga. Tentu saja karena hampir 2 bulan, bulan Juli-Agustus tinggal disana. Kembalinya kesana juga sebenarnya awal dari maksud untuk memulai seperti kegiatan yang sudah dilaksanakan selama 2 bulan yang sudah hampir 8 bulan berlalu. Anggap saja ini bagian dari niat baik akio dan teman2 untuk membuat Bojong menjadi baik. Baik orang2nya, juga baik desanya. hehe..
Oh iya, sebaiknya akio memang bilang dari awal dulu ya. Kegiatan yang akan akio dan teman2 terapkan di Bojong ini memang agak berbeda dengan kemarin. Lebih spesifiklah intinya. Then, inti dari kegiatan akio dan teman2 adalah tentang pelatihan sekaligus pembinaan tari. Tarinya sendiri adalah tari saman, tari yang berasal dari provinsi paling ujung di Indonesia.
Kenapa saman? padahal kan Kulonprogo itu Jawa? Nah, ini juga sebenarnya ada pertimbangan lain. Latihan saman ini pernah dilakukan pas KKN 2 bulan kemarin. Kemudian, melihat potensi adek2 yang sudah lumayan suka dengan tarian yang gerak cepat anggota badan itu, akio dan teman2 langsung berencana untuk melanjutkannya. Ada pelatih, ada orang, ada dana...segera aja :D
Sebagai permulaan, kemarin akio dan teman2 melakukan kunjungan awal sekaligus pemetaan sosial. Rencana awal adalah ke tempat Pak Dukuh dimana merupakan orang penting di desa. Dari Pak Dukuh, didapatkan satu orang sebagai pengurus pemuda-pemudi di desa. Datang ke rumahnya eh ternyata belum pulang. Usut punya usut juga ternyata dia massih sekolah, kelas 3 lagi..waaa
Sebagai plan B dari rencana awal, akio memang berencana untuk mengunjungi musola sebagai sarana penting dari kegiatan ini. Sebenarnya sejak awal memang musola dan anak2 musola merupakan kunci utama yang benar2 akio andalkan terutama dalam terwujudnya kegiatan ini. Dan yang paling penting dalam hal ini adalah 2 adek kecil pengurus musola. Betapapun banyak nama yang muncul, tetap saja dalam hati, akio selalu mengarah pada 2 adek kecil tersebut.
Sebagai gambaran awal, Bojong 7 tepatnya desa yang akio pakai tersebut memang memiliki sejarah kesosialan yang cukup pelik. Mulai dari persekutuan pemilihan kepala dukuh, anak2 yang diminta ini dan itu, kesenjangan inilah, orang-orang yang disukai dan disegani yang manalah dan sebagainya. Komplek dan kalau dibuat sosial mappingnya akan banyak cabangnya. Sebenarnya untuk kegiatan ini, yang penting yang harus dipegang adalah yang memotori perkumpulan hadrah dan seninya. Bukan ketua pemuda-pemudi atau yang lainnya, karena memang sejak awal pemuda-pemudinya cukup rewel, stagnan, egios dan tidak mau berkembang. Adanya ketua pun ternyata tidak bisa dijadikan alat. Oh, maaf, bukan alat, tetapi semacam mediator atau penghubung. Kenapa akio berani bilang seperti itu, karena orang yang dianggap sebagai ketua pun tidak bisa menggerakkan massanya. Mungkin bukan tidak mampu, tapi ya itu tadi sebuah keegoisan karena sudah lelah dengan keadaan.
Then, ketika dihadapkan pada hal seperti ini, tumpuan utama adalah dua adek kecilku. Kenapa? Karena menurutku, adek2ku itu bisa bener2 mengkoordinir, berbicara, ngemong, bermain dari hati ke hati dengan adek2 yang lain. Yaa..meskipun hanya selingkup 1 RT, tapi bagiku mereka sudah sangat luar biasa. Tidak mudah menjadi orang yang sangat disegani dan dihormati sekaligus bisa ngemong adek2nya. Akio juga harus belajar sama ke 2 adek kecil itu :D
Semangat akio dan teman2, kamu pasti bisa kok. Hehe ayolah, pasti bisa kio :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar