Minggu, 12 Februari 2012

#2 Ketika Antropolog Berada di Kereta

29 januari 2012

Perjalanan ke Bandung ini dimulai tepat tengah malam. Pukul 00.00 tepat mungkin ya. Dengan kereta yang hampir tidak terkejar, missing dengan teman perjalanan sampai akhirnya masuk ke kereta gerbong 2 nomer 20 CDE.

Hampir 8 jam di kereta ternyata membawa akio pada sebuah kisah. Lagi lagi, sih. Setiap aktivitas memang memiliki cerita. Tak terkecuali di kereta. Pertama kali naik kereta, karena itu akio bingung. Betapa enggak, ternyata naik kereta itu tidak segampang naik motor. Harus tau peron mana, gerbong mana, dan tempat duduk yang mana. Tidak bisa milih sendiri yang jelas. Kebetulan, kemarin juga akio bingung ini harus duduk dimana pas udah ketemu gerbong sama tempat duduknya, loh kok malah ada bapak2 yang duduk. Maksudnya gimana ini, tapi setelah dijelasin memang ternyata bapaknya yang salah baca angka. Beres deh duduknya. Akio berada di depan 2 ibu-ibu yang sedang berusaha untuk tidur. Berada disamping jendela juga.

8 Jam. Iya, 8 jam masa perjalanan seperti biasa akio selalu menjadikan mata sebagai sarana untuk mencari bahan cerita untuk diceritakan. Di gerbong ini, banyak orang yang akio tidak kenal, tapi berusaha untuk mengenalkan diri. Ada mbak-mbak yang sibuk dengan usahanya untuk tidur dan mengurangi aktivitasnya, ada mas-mas dengan pakaian preman yang juga dengan upaya keras berusaha untuk tidur, ada seorang mas-mas yang lebih memilih buku sebagai bahan alihan daripada tidur, tetapi juga ada kelompok mas-mas yang malah sebaliknya menghabiskan waktu dengan bercerita satu sama lain. Sederet penglihatan mata akio, itulah yang akio temukan.

Dari beberapa yang akio sebutkan, akio benar-benar sangat tertarik dengan sekelompok mas-mas yang saling bercerita disebelah tempat duduk. Based on pembicaraan, gaya dan pernak-pernik yang dipakai, serta apa yang dibawa, akio mulai memunculkan dugaan-dugaan bahwa:

1. Mereka adalah sekelompok pelancong atau turis atau orang yang sudah selesai melaksanakan liburan. Hal ini dibuktikan dengan adanya poto2 yang selalu mereka lihat dan bicarakan, aksesoris berupa souvenir yang mereka pakai dan selalu pamerkan, serta tas ransel mereka yang besar.

2. Liburan mereka adalah liburan yang berlokasi di daerah bagian timur. Sempat berpikir bahwa mereka habis liburan di Toraja karena aksesoris kalung mereka yang sedikit berbau etnik. Selain itu, cara mereka ngobrol sambil melakukan aktivitas seperti makan mie dengan masak sendiri pake botol yang dibakar, dan aktivitas lainnya.

Seringkali memang praduga selalu menjadi awal dari cerita-cerita yang akio dapat. Dengan apa yang akio lihat dari berbagai aktivitas mereka, akio menjadi semakin tertarik untuk melihat apa yang akan mereka lakukan setelah ini, kemudian apa, dan kemudian, dan seterusnya.
Ternyata memang menarik mengamati mereka. Mereka, dengan kehebohan, selalu bercerita dengan semangat. Selalu saja ada yang menjepret selagi ada yang ngobrol, selalu ada usil ketika jepretan hampir dilakukan, dan berbagai kegiatan yang menurutku excited.

Memasuki waktu yang semakin larut, kegiatan mereka banyak diisi dengan makan dan minum. Wajar sih, waktu-waktu seperti itu memang sangat rawan lapar. Oke wajar aja makan cemilan atau roti. Nah, mereka makan mie. Mie instan yang berupa plastikan, bukan cup. Kalo cup mah masih wajar, nah ini batangan gitu. Akio bener2 pengen tau nih, gimana mereka makan. Selama selang waktu, mereka nyiapin stenless sama aqua. Air dimasukan ke stenless dan aqua dikosongkan. Salah seorang dari mereka mengipas-ngipaskan aqua ke jendela. Pikirku sih, “Mau dibuang apa ya?”.

Sembari aku berpikir tadi, salah seorang dari mereka bertanya padaku yang juga sembari ngobrol sama Irma yang ada di sebelahku.

“Mbak, bawa gunting?” | “Eh, enggak mas.” | “Silet?” | Enggak juga mas.” | “Gunting kuku?” | “Ehe enggak juga sih.”

Pikirku lagi, “Ini masnya mau ngapain sih, pake gunting kuku segala.”

Kembali menjadi pengamat. Ternyata aqua yang diangin-anginkan, gunting, silet, atau gunting kuku yang dicari adalah alat-alat yang akan digunakan mereka untuk mengeksekusi mie rebus itu. Aqua dibakar dengan korek api yang sebelumnya sudah dilapisi oleh stenless biar gak netes. Oh iya, kenapa gunting atau gunting kuku? Nah, gunting itu digunakan untuk memotong aqua biar mudah dibakarnya dan munculnya api. 10 menit kemudian, mie rebus jadi. Makan-makanlah mereka dengan lahapnya.


“Afikaaaaaaaa...” | “Iyaa..” | “Mereka berjumlah enam orang looh..” | “Wah, banyak dong.” | “Iyaa.”


Hehe..Iya, jadi mereka ada 6 orang. Ada mas gondrong, mas yang tinggi, mas yang matanya indah, mas yang suka tidur, mas yang suka jepret, sama satu lagi, mas yang mirip sama takeru yang suka nyempil dan lucu. Entahlah, dia mirip sekali dengan Takeru-kun.

Tentang mas yang mirip dengan Takeru-kun, akio tidak bisa berkomentar banyak. Nyahaha..no comment dah. Hal yang jelas terlihat adalah bahwa sejauh perjalanan dan sejauh mata memandang, dia memang selalu terdiam dengan gerakan yang selalu mengarah ke jendela dan sesedikit ikut nimbrung ngobrol dengan teman disekitarnya. Tidak ada yang aneh dengan dirinya, sih. Hanya saja, rambutnya yang kriwil-kriwil mengingatkan akio sama Takeru yang memang selalu membuat bentuk rambutnya menjadi selalu ada unsur2 kriwil-kriwilnya. Selain itu, juga dengan memasang tampang bodoh dan sesekali tanpa ekspresi juga sangat mirip sama Takeru-kun. Hehe..entahlah lagi deh, kalo ada yang nanya kenapa :D

Hm..ada lagi ding. Setidaknya cara tidurnya sedikit sama dengan akio. Selama perjalanan, sembari melihat gerak-gerik mereka, akio juga sesekali tidur. Then, akio selalu menutup muka dengan slayer ketika tidur. Simpel sih alesannya. Biar gak ada yang ngeliat kalo tiba2 akio ngiler #boong ah :D

Setiap orang kalo tidur kan macem-macem ya. Nah disini, akio berusaha untuk stay cool, sih. Tetapi eh tetapi, ternyata mas yang konon katanya mirip sama Takeru-kun ini juga gitu. Menutup muka dengan slayer coklat batiknya dan tidur dengan tangan bersingkap.

Eeeerrrrrrrrrr.. Itu, kan gayaku banget #ngorek2tanah XD


Beberapa jam kemudian..
Selamat datang pagiii,
Selamat datang Bandung,
Mereka ternyata telah bersiap-siap turun. Kami beda turun satu stasiun. Mereka telah turun di stasiun Jatinangor. Mungkin mereka salah satu dari awak Unpad. Hehe #mulaiberpraduga
Dari sini, kami berpisah. Selamat tinggal sekelompok mas-mas pencari gunting kuku. Sampai ketemu lagi. Kami masih menunggu satu stasiun lagi untuk mencapai tempat tujuan nih. Stasiun Hall Bandung, waiting me yaa :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aikotoba~