Jumat, 20 Februari 2015

Daigaku no Festival!

Bismillahirrakhmanirrakhim...

Hai! Masih menyambung liburan musim gugur, kali ini cerita tentang Tufs Festival. Seperti namanya, kegiatan ini murni festival yang isinya hore-hore, tapi hore-hore yang benar-benar dipersiapkan khususnya tentang jualan makanan. Satu hal yang paling terkenal dari Tufs Festival adalah pesta makanan. Di sini, semua orang dapat menikmati makanan dan minuman dari 24 negara dengan macamnya. Yah, sudah terlihat jelas karena memang sekolahku adalah sekolah bahasa asing. Selain masalah sajian makanan dan minuman, hal yang ditunggu dari festival ini adalah performance stagenya!




Yap! performance stage tersebut dihadirkan dengan berbagai bahasa, sesuai dengan jurusan. Performernya adalah ichinensei yang artinya mereka baru benar-benar dalam tahap belajar bahasa. Walaupun masih ichinensei, menurutku, mereka sudah cukup baik untuk -paling tidak-membuat performance stage yang cukup amazing. Kenapa amazing? karena mereka nggak asal-asalan dalam persiapan. Sepertinya, mereka benar-benar belajar dengan sungguh-sungguh mulai dari pelafalan (ada beberapa bahasa yang perlu dilatih salah satunya bahasa indonesia), ekpresi (orang jepang sangat teliti dengan ekspresi dan mimik wajah), dan sangat perhatian dengan appearance semacam kostum, pencahayaan dan ruang. Pokoknya benar-benar dipersiapkan. Aku dengar dari beberapa sensei yang membantu persiapan mengatakan bahwa mereka sudah mempersiapkan sejak awal masuk summer break. Jadi sudah pasti sangat detail dan taihen da ne.

Hm, sebenarnya untuk masalah performance stage, aku ingin sekali melihat performance dari jurusan bahasa Turki, bahasa Jepang, dan bahasa Indonesia. Namun sayang sekali, performance stage jurusan bahasa Turki terlewatkan karena aku ikut trip ke Mitake san. Kemudian performance stage jurusan bahasa Jepang juga terlewat karena dilakukan pagi dan....aku baru bangun! KEZEL, sih, tapi ya gimana~

Pada akhirnya di hari kedua menjelang akhir, aku baru bisa benar-benar menikmati apa yang disebut dengan festival. Mencoba beberapa masakan yang disajikan setelah struggle mencari mana masakan yang dapat dimakan. Ketemulah, masakan arab dan masakan malaysia. Cuma masakan tersebut yang dapat dimakan. Aku nggak bisa makan masakan indonesia karena mereka memakai minyak dari pork. Yah, memang belum diijinkan untuk rindu masakan indonesia, hahaha. Ada hal lucu ketika antri di bothnya masakan malaysia. Ibu yang menyiapkan makanan menganggapku sebagai orang malaysia dengan mengajak berbicara bahasa malay yang diawali dengan salam. Sungguh sangat baik ibu tersebut. Kemudian bertanya tentang jurusan dan belajar apa disini, aku bilang kalau baru datang kesini bulan oktober kemarin. Percakapan kami berakhir dengan makanan di tanganku dan ibu tersebut mengucapkan selamat belajar dan ’がんばってください’! wah terharu banget, ya Allah :)




Dan...! akhirnya nonton performance stage jurusan bahasa Indonesia. Aku nonton bareng sama Ifa dan Lia. Eri juga ikut nonton ternyata. Kami ketemu di Agora global. Oya, selain kami -yang orang Indonesia- ternyata ada waktu itu ada beberapa anak setingkat SMP dari Indonesia yang juga menonton. Tidak begitu mengerti asal dan apa sebenarnya kegiatan mereka disini, sih. Kurang bersahabat juga mereka, jadi malas untuk berkomunikasi lebih jauh.

Performance stage jurusan bahasa Indonesia kali ini mengangkat tema magic-adventure, khas cerita jepang, sih. Hanya saja, setting dan karakternya indonesia sekali. Cerita bermula dari 2 orang anak yang rindu dengan kakek dan neneknya yang sudah tiada. Saking rindunya mereka sampai terbawa mimpi. Akan tetapi mimpi tersebut ternyata adalah sihir dari seorang pesulap yang ingin menculik mereka sehingga mereka terjebak dalam dunia mimpi dimana mereka bermimpi bertemu dengan kakek dan neneknya. Agar mereka dapat kembali ke dunia asal, mereka harus menemukan burung berwarna biru yang membawa berita gembira sekaligus membuat mereka terbangun dari mimpi mereka. Akan tetapi, dalam perjalanan menemukan burung biru tersebut, mereka harus melalui beberapa rintangan. Singkat cerita, mereka terbantu oleh beberapa tokoh yang mereka temui selama perjalanan. Yah, cukup sci-fi dan jepang banget, lah. Tapi overall, mereka sudah berjuang keras dan cukup bagus dalam pelafalan khususnya untuk mereka yang masih ichinensei. Karena aku juga masih ichinensei, mari berjuang bersama! がんばってください!





Oya, di hari terakhir, festival ditutup dengan hanabi. Di hari terakhir, aku bertemu dengan Amy, orang china yang sama-sama ambil kelas japan security. Dari sinilah, aku sama dia jadi sangat akrab :D



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aikotoba~