Minggu, 04 September 2011

Beda Tidak Selalu Berarti Aneh

Percaya nggak percaya pokoknya musti percaya, aku punya daftar panjang nama orang
aneh di dunia. Jangan tanyakan siapa mereka, tetapi tanyakan kenapa mereka bisa dinobatkan jadi orang aneh. Namun apabila kau berani menanyakan padaku, hanya satu jawaban sederhana yang bisa kukatakan, mereka itu adalah pecinta manga dan film animasi.
Setiap tahun, ada saja nama baru dalam daftarku. Tahun ini aku mendapat satu nama
lagi. Sebuah nama yang tidak begitu asing, Kiki Arina Mukti. Dia adalah teman satu kelasku. Aku tidak terlalu mengenalnya karena dia adalah anak pindahan dari kelas IPA. Di sekolahku, kelas IPA merupakan kebanggaan sehingga banyak teman-temanku yang berusaha matimatian untuk masuk kelas IPA. Apalagi dengan jumlah kelas IPA yang hanya 3 kelas semakin memperketat persaingan perebutan kelas IPA. Tapi anehnya, Kiki yang sudah jelas-jelas masuk kelas IPA malah memilih untuk pindah ke kelas IPS. Isu yang beredar terkait dengan kepindahannya ke kelas IPS adalah karena menurutnya ilmu sosial lebih dibutuhkan dalam kehidupan. Mungkin hal ini tidak begitu penting baginya, tetapi bagiku hal itu adalah keputusan yang bodoh karena jujur aku sendiri juga ingin masuk kelas IPA.
Satu hal yang sering membuatku tertawa adalah tingkah lakunya yang menggemaskan.
Memang dasar masih anak-anak, dia hanya mau dipanggil Kiyo. Sungguh sangat aneh dan
yang lebih aneh lagi adalah aku jadi semakin sering mengamati tingkahnya. Ya Tuhan..!!! Sebuah informasi yang kudapat baru-baru ini adalah fakta bahwa dia ingin dipanggil dengan nama “Kiyo” agar mirip dengan kikiyo, salah satu tokoh anime yang dia suka. Namun, Kiki atau Kiyo bagiku setali tiga uang alias sama saja. Dia tetap anak kelas XI SMA yang kekanak-kanakan. Kiyo punya penampilan dan sifat yang sangat kontras. Kalau dilihat sekilas, dia memiliki postur tubuh yang tinggi, badan ramping, cantik layaknya remaja SMA yang sudah memasuki pubertas. Akan tetapi, kalau diajak diskusi soal film, aduh telmi-nya minta ampun!! Coba bayangkan, ketika teman-teman sekelas sedang heboh dengan Twilight, tiba-tiba dia menyeletuk, ”Taiyou No Uta tuh romantis, lho!”. Sama saja kalau bicara tentang lagu. Ketika yang lain sedang asyik membahas Justin Bieber, dia dengan wajah tak berdosanya berkata,
”Yang paling bagus ya Aqua Timez. Itu loh yang nyanyi di BLEACH.” Mendengar itu semua jadi terbengong-bengong.

***
Hari ini adalah H-3 menjelang bulan puasa. Sekolah masih biasa saja. Beberapa anak
sempat cemas. Akankah kegiatan belajar akan dialihkan ke rumah? Isu ini beredar karena seorang anak mengaku mendapat bocoran bahwa sekolah akan meliburkan kegiatan belajarmengajar selama bulan puasa berlangsung. Terkait dengan isu tersebut, jujur sebenarnya aku juga cemas. Kecemasanku berada pada fase antara senang dan sedih. Senang karena aku dapat mengerjakan pekerjaan lain yang aku suka tetapi sedih karena aku pasti akan ketinggalan banyak pelajaran. Apalagi ujian mulai dekat. ”Bagaimana jadinya kalau aku tidak belajar? Ah, complicated,” Kataku dalam hati.
Akhirnya kecemasan yang melandaku 2 jam yang lalu akhirnya terjawab. Wali
kelasku, Ibu Tantri masuk kelas dengan wajah yang penuh suka cita. Dia memberikan
informasi bahwa sekolah tidak akan memberikan hari libur selama bulan puasa. Hari libur akan diberikan 3 hari menjelang hari raya. Mendengar hal itu, secara spontan suasana kelas dipenuhi dengan hiruk-pikuk protes dari mereka yang ingin libur. ”Puasa-puasa kok sekolah,”
Komentar mereka dengan lantang. Kelas menjadi ramai. Ibu guru hanya tersenyum
menanggapi komentar mereka. Hanya sepatah kata yang terucap dari ibu guru yang baik hati itu. ”Itulah yang namanya birokrasi, nak. Kalian hanya golongan bawah yang tak punya kekuasaan.” Kata-kata Bu Tantri sejenak menenangkan kericuhan di kelas kami sampai kegiatan di kelas berakhir.
Ketika kelas berakhir, teman-teman sekelas tidak langsung pulang. Teman-teman yang
lain termasuk aku tidak diperbolehkan pulang dengan alasan rapat konsolidasi. ”Uh, ternyatakata-kata Bu Tantri ternyata tidak begitu ampuh, Kataku dalam hati. Mereka masih sajameributkan masalah libur puasa. Bahkan yang lebih ekstrim adalah mereka bersikeras tidak terima dengan keputusan sekolah. Bahkan teman-teman sekelasku sudah merencanakan demo.
Tidak tanggung-tanggung, semua orang diajak atau lebih tepatnya adalah dipaksa ikut.
Sebenarnya aku tidak begitu suka demo. Namun tidak berbeda dengan temanku yang lain, aku tidak bisa menolak karena takut dianggap tidak kompak. ”Kita harus kompak tau!! Ingat ideologi yang kita bentuk dari awal kita disini, sosial satu dan kompak selalu,” Kata Ardian
dengan berapi-api.

***
Akhirnya hari H tiba. Semua orang sudah siap dengan kostum, poster, dan spanduk
masing-masing. Begitu guru pertama masuk, langsung gelar aksi. Spanduk 5 meteran
dipampangkan didepan kelas. ”Tolak kesewenang-wenangan!!!! Basmi ketidakadilan!!!”,
begitu bunyinya. Melihat hal itu, Pak guru langsung panik. Apalagi dengan teriakan temanteman sekelas, kepanikannya semakin menjadi-jadi. Dalam kepanikannya, dia sempat mengancam akan melapor kepala sekolah. Namun karena tidak ada tanggapan dari temanteman, akhirnya keluar dari dari kelas dan berinisiatif melapor kepala sekolah. Suasana kelas menjadi riuh. Bahkan kelas tetangga pun ikut berteriak.
Beberapa menit kemudian, kepala sekolah sudah didepan kelas. Kehadiran kepala
sekolah memberikan firasat buruk bagi mereka yang ngotot. Sepatah kata dari kepala sekolah memberikan pesan bahwa demo gagal. Niatnya mengancam malah diancam. Mulanya
berencana bolos, akhirnya malah dipaksa masuk. Ancaman yang mematikan semangat adalah adanya ultimatum ”Demo berarti DO”. Akhirnya mereka pasrah. Aku dan beberapa temanyang ikut demo dengan berat hati pun senang karena ambisi mereka terpatahkan.
Begitu demo selesai, tiba-tiba ada orang berkata, ”Eh, anak itu nggak ikut demo ya?
Kemana tuh anak!?,” Kata Ardian, Ketua koordinator demo. Nadanya kedengaran marah
sekali.
Ketika kelas sedang panas, orang yang dimaksud akhirnya nongol juga. Seribu satu
ekspresi kemarahan tertuju padanya. Akan tetapi si Kiki dengan wajah tidak berdosa malah cengar-cengir tidak karuan. Cueknya luar biasa.
”Heh, Jelek!!” Celetuk sarah, siswa paling pintar di kelas. ”Kenapa kamu nggak ikut
demo?”
”Aku nggak suka demo, Sa.”, Jawab Kiki singkat.
”Nggak suka?!!,” Sarah mencoba mengulang.
”Lha, aku harus bilang apa?,” Kata Kiki lembut.
”Kamu jadi anak kok sombong banget, sih? Kau pikir, kamu tuh siapa?,” Sambung
ketua kelas, Rio.
”Aku Kiyo. Kalian dah tau, kan?”
”Bukan itu, Koko!!..” Belum selesai bicara, Rio langsung dipotong oleh Kiki.
”Kiyo,” Kata Kiki tegas.
Sedikit kaget, Rio langsung melanjutkan, ”Ah, mau Kiki, Koko, Kuku, Kiyo atau yang
lain mah terserah. Dasar masih anak-anak!!! Dijelasin kayak apa juga nggak bakal ngerti.”
Kiki langsung menimpalinya, ”Kok bisa? Aku kan belum denger penjelasan apapun.
Kalau nggak ngerti ya wajar, dong. Apa yang mau dingertiin?”
Aku yang ada disampingnya jadi terbengong-bengong. ”Bener juga, ”Pikirku singkat.
”Sekarang jelaskan ke kita kenapa kamu nggak ikut demo!! Ikut aja apa susahnya, sih?
Kita tuh harus kompak!!” Tukas sang ketua.
Kiki diam sebentar, lalu dengan lembut dia menjawab, ”Aku nggak mau ikut demo
kalau akhirnya hanya ngikutin tindakan kalian yang tidak berdasar. Pikir dulu dong kalau mau berbuat. Pikirin resikonya, jangan cuma ngomong doang. Satu hal yang perlu kalian ketahui,memaksakan pendapat orang lain itu sangat tidak asasi. Nilai Kewarganegaraan kalian dapat berapa, sih?”
”Ah, kamu juga nggak punya dasar, kan?” Tangkas Rian.
”Maksudmu?” Jawab Kiki singkat.
”Bukannya kamu suka film kartun?” Jelas Rio.
”Anime!!!” Kiki mengoreksi.
”Ya itu lah. Kalau puasa kan kamu bisa nonton sepuasmu. Harusnya kamu ndukung
kita dong!” Papar Rian.
”Ya ampun, kalian tuh kayak anak-anak aja. Ada waktunya buat nonton, ada
waktunya buat belajar. Kalau jatahnya belajar ya belajar, jangan nonton anime!! Masih ingat kan apa yang diajarkan Bu Tantri kemarin, Asas Prioritas. Asas Prioritas tuh nggak hanya berlaku dalam pelajaran Ekonomi, tetapi berlaku juga dalam kehidupan sehari-hari. Kita kan dah gede, harusnya tau dong mana yang penting, mana yang didahulukan, dan mana yang kapan saja bisa dilakukan.” Jawab Kiki panjang lebar.

***
Sikap Kiki tetep tidak bisa diterima teman-teman sekelas. Dia masuk blacklist. Sebuah peraturan pun dibuat. Isinya pun tak jauh beda dengan yang kupikirkan, teman sekelas tidak boleh ada yang jadi temannya. Mulai dari bicara sampai menyapa sekalipun. Meskipun begitu, Kiki tetap saja cuek seolah tidak terjadi apa-apa. Dia tetap ceria dan riang gembira. Aku jadi semakin kagum dengannya. Aku dengan keberaniannya terlebih dengan kemampuannya menghadapi serangan kelompok pro-libur puasa. Dia tetap tenang dan bijaksana. Aku tidak peduli dengan aturan yang tidak jelas itu.
Ketika istirahat siang, kebetulan aku melihat Kiki di kantin. Aku pun memesan
makanan dan duduk disampingnya. Saat aku menyapa dan ingin duduk disampingnya, dia
tersenyum dengan wajah manisnya. Aku membuka dialog dengan pertanyaan singkat. ”Aku tertarik kata-katamu kemarin,” Kataku jujur.
”Heh, yang mana?” Kata Kiki dengan wajah bodohnya.
“Asas prioritas,” Jawabku singkat.
“Oh yang itu. Kenapa? Biasa aja kali, di IPS kan ada.” Jelasnya singkat dan tetap
dengan wajah bodohnya.
Aku tertawa kecil. “Hmm..gimana ya? Soalnya selama ini aku pikir sepanjang hari
kerjaanmu cuma nongkrongin televisi aja, tapi...”
“Nina..Nina..” Kiyo menyela, ”Setiap orang punya sketsa hidup sendiri-sendiri. Dan
setiap serpihan sketsa itu harus dicari dengan kemampuan dan cara tersendiri.”
”Sejak kapan kau bisa berpuisi, Ki?” Tanyaku penuh keingintahuan.
”He..he..di I’ll. Itu manga kesukaanku, lho. Hitonari-kun yang bilang,” Jawabnya
sambil nyengir. Aku pun tertawa. Kali ini kucoba memberanikan diri bertanya hal yang cukup serius padanya. ”Kamu nggak marah diperlakukan seperti itu sama teman sekelas, Ki?” Tanyaku jujur.
Dia tambah nyengir. Lalu diam sejenak dan tersenyum sambil menjawab, ”Masa lalu
yang sudah lama berlalu dan masa depan yang masih panjang, mengakui yang dulu baru
menghormati yang sekarang.”
”Wew, apa itu?”
”Hikaru No Go, he he...Hikaru-kun yang bilang,” Jawabnya sambil tertawa.
Mendengarnya, aku hanya bisa tersenyum. Sekali lagi aku dibuatnya terpana. Dia
benar-benar diluar dugaan. Film anime yang selalu kuanggap jelek dan tidak bermutu malah memberikan inspirasi yang begitu luar biasa baginya. Berbagai macam cerita yang dia ikuti memberikan banyak pengalaman sekaligus motivasi untuk hidup sesuai dengan mimpi yang dia harapkan.
Sejak saat itu, aku berubah seratus delapan puluh derajat. Aku yang dahulu tidak suka anime sekarang jadi suka anime. Ternyata kita bisa belajar banyak dari hal-hal yang kita anggap remeh. Bahkan aku jadi termotivasi dengan lagu yang sering kudengarkan. Lagu Jepang berjudul ”Niji” yang kudapat dari Kiki. ”Ketika kau menyerah dari mimpimu, langit akan menangis padamu. Karena itu, raih mimpimu agar langit tersenyum padamu.” Itulah kata-kata ajaib yang selalu menjadi penyemangatku dalam meraih mimpi dan menjalani hidup ini.

---end---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aikotoba~