Namanya memang Andri Wahyu Eko(wati), tapi percayalah, teman geje saya yang satu ini perempuan asli. Namanya di Facebook berganti-ganti, tapi selalu mengandung unsur ‘Akio’; entah Akio Akihabara, Akio Kiyo Kiyo, dan lain-lain yang saya tidak terlalu ingat. Foto profilnya adalah sebagian besar foto artis-artis Jepang yang saya juga tidak tahu siapa, atau gambar dari suatu anime (Jepang pula).
Kalau ditanya kenapa bisa kenal Akio, saya akan menjawab, “Kan sefakultas, haha.” Sama-sama di Fakultas Ilmu Budaya, tapi beda jurusan; saya arkeologi, dia antropologi. Meski begitu, Akio lebih banyak kenalan anak-anak Fakultas Teknik dibanding anak FIB sendiri, saya juga heran -,-. Kapan persisnya kami kenalan, saya lupa. Yang jelas, kami mulai dekat dengan gejenya setelah malam-malam begadang menggarap proposal tentang Tour de Gua bersama. Pengerjaan proposal itu juga yang akhirnya membuat saya kenal dengan satu lagi teman geje dari fakultas tetangga: Dea Yustisia. Kalau tidak salah ingat, momen itu terjadi sekitar akhir Juni 2010, setahun lebih sedikit dari sekarang.
Bersama Dea Yustisia juga, kami adalah trio geje ampun-ampunan, dengan kosan Akio sebagai ‘markas’nya. Kami biasa ujug-ujug muncul di depan kos Akio tanpa pemberitahuan sebelumnya dan langsung mengacau di sana. Saking akrabnya dengan tempat itu, kami sudah memiliki posisi pewe masing-masing di kamar Akio: Dea Yustisia di kasur, saya di karpet dekat tempat tidur, dan Akio di karpet dekat meja laptop. Di sana kami bisa menggeje ketawa-tawa ra cetho blas sampai larut malam, membicarakan banyak hal, berbagi beban, menggalau bersama. Bersama mereka, saya merasa lebih kuat esoknya :).
Di antara kami bertiga, Akio adalah yang paling suka heboh sendiri. Kalau nonton film sedih, kami sepakat ia yang akan paling cepat menitikkan air mata terharu. Dengan gaya khasnya, ia yang biasanya paling cepat berteriak-teriak panik. “Aduduh Bil! Piye ikiii, piyeee Biiil! Aduh aku salah ya? Huaaaa…” Hahahaha :p
Namun jangan salah. Pernah pula ada satu kejadian yang membuat Akio sempat mendiamkan saya dan Dea Yustisia beberapa waktu. Akio yang seperti itu, ternyata bisa juga menjadi sangat ‘dingin’. Selama berbulan-bulan, jutaan (lebay :p) SMS, message, wall, komen, bahkan sapaan kami tidak digubris. Kami menyebutnya ‘Insiden Kebumen’. Sekarang, kami selalu tertawa-tawa sendiri kalau mengenang insiden geje tersebut.
Seperti yang ia akui dalam satu statusnya, Akio gampang sekali ketiduran, dan sangat susah dibangunkan. Ketidurannya Akio tidak mengenal waktu, entah pagi, siang, sore, atau malam. Begitu sendirian tanpa kerjaan di kosnya, dia pasti langsung ketiduran. Pelajaran nomor sekian dalam hidup geje kami: kalau Akio nggak bales SMS dan telepon berbelas kali nggak diangkat, dia pasti ketiduran. Saya pernah dibuat frustrasi beberapa kali karena kebiasaannya ini. Sekali waktu karena dia membuat kami kehilangan kesempatan makan gratis, sekali lagi saat kami mau ngerjain Dea Yustisia di malam menjelang ulang tahunnya, haha.
Kalau ada notification Facebook bahwa Akio mengomentari sesuatu, bersiaplah melihat komen yang sama dalam jumlah banyak, berkali-kali. Kami selalu menuding modem Akio yang lemotnya minta ditabok sebagai penyebab multiple post tersebut. Kalau lagi mending, mungkin hanya ada 3-4 pengulangan. Tapi kalau lagi parah, belasan bahkan puluhan komen Akio bisa memenuhi status, foto, atau wall Anda -,-.
Meski sering berputar-putar saat mengutarakan sesuatu, Akio adalah teman diskusi yang sangat menyenangkan. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian dan menanggapi ide atau permasalahan yang dilontarkan dengan mata membulat berbinar-binar, terlepas dari apakah selanjutnya ia akan setuju atau tidak dengan ide tersebut. Dari perspektifnya sebagai sebagai mahasiswa antropologi yang berhubungan dengan manusia dan kebudayaan, ia seringkali memberikan sanggahan, masukan, atau pandangan lain terkait permasalahan yang dibahas.
Akio sangat terobsesi pada Jepang. Seperti sudah disebut di awal, foto profil Facebooknya kebanyakan berbau Jepang. Link-link yang ia share juga sebagian besar berkaitan dengan Jepang. Akio seringkali menyebut-nyebut artis Jepang yang bernama Kanata atau Miura, mbuh sopo kui. Bahkan, saat Jepang dilanda tsunami dahsyat beberapa bulan silam, yang pertama kali ia cari tahu adalah apakah Kanata selamat atau tidak -,-. Kalau ditanya apa mimpi atau cita-citanya, ia punya satu jawaban pamungkas: ingin pergi ke Negeri Sakura.
4 Juli 2011 mendatang, Akio akan berusia 21 tahun. Mau ngerjain dan ngasih kejutan, sayangnya kami sedang menginjak belahan bumi yang berbeda-beda. Akhirnya, saya berharap sedikit memoar tentang dirinya ini dapat menjadi pelipur lara dan pengganti kue, hahaha :p. Lantas, kenapa saya mengepostnya sekarang, padahal kan masih 2 hari lagi sebelum ulangtahunnya? Yah, saya mengantisipasi kalau-kalau di tempat KKN-nya nanti tidak ada sinyal atau kesempatan untuk mengakses internet. Sia-sia dong saya menulis ini panjang-panjang kalau nanti ia tidak bisa membacanya, hahaha.
Finally, happy belated H-2 birthday, Akio! Semoga di usia yang semakin menua, sisa hidupmu semakin berkah. Semoga makin geje, dan mampu mengoptimalkan kegejean itu untuk sesuatu yang bermanfaat. Semoga sukses apa yang dicita-citakan. Semoga selalu menjadi pribadi yang lebih baik, memberikan yang terbaik, mendapatkan yang terbaik :)
dengan backsound Ingatlah Hari Ini – Project Pop
Jakarta, 2 Juli 2011
****dikutip dari note pesbuk yang secara keseluruhan dari pesbuknya sabil xD
Tidak ada komentar:
Posting Komentar