Sesuatu yang pergi, pasti akan kembali. Sedangkan sesuatu yang kembali pasti akan pergi lagi. Seperti sebuah kisah klasik saja. Kata-kata itu muncul dalam pikiranku beberapa waktu yang lalu. Ketika salah seorang teman pergi ke suatu tempat. Ketika dia sangat ingin pergi ke tempat itu. Tempat yang juga ingin sekali aku kunjungi.
Sebuah hal yang wajar ketika orang menjadi terobsesi dengan keinginannya. Aku pun sebenarnya juga sangat terobsesi dengan tempat itu. Begitu juga dengan orang itu. Orang itu pun, saking terobsesinya sampai berencana untuk memusuhiku. Itu memang cerita lama. Walaupun memang pada akhirnya obsesi kami berdua dimenangkan olehnya. Dia memang lebih keren daripada aku. Aku memang mengakuinya.
Kemenangan itu memang membuatnya berhasil memenuhi obsesinya. Sebuah obsesi yang akupun juga ingin sekali memenuhinya. Tapi apa daya, memang aku hanya seorang punguk yang berharap dapat melihat bulan. Bulan dan bintang memang sangat jauh berada di sana. Punguk mana sih yang tidak ingin melihat bulan? Bohong bila tidak ada yang mengaku. Aku pun sama seperti punguk. Aku memang sangat mengharapkannya. Berharap memenangkan sebuah obsesi yang berkedok obsesi. Entah mau disebut apa yang jelas, obsesi atau mimpi adalah setali tiga uang alias sama saja. Semuanya adalah perwujudan dari keinginan yang setidaknya (sangat) harus dilaksanakan.
Waktu memang cepat sekali berlalu. Sejak saat itu, saat ketika dia pergi, obsesiku memang tidak serta-merta ikut pergi. Aku masih saja mengejar obsesiku. Berlari dan terus berlari mengejarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar