Senin, 05 September 2011
Wisuda Bumi, Sebuah Upacara Penyucian Diri
Candi Prambanan merupakan candi hindu terbesar di Pulau Jawa. Candi yang terletak diperbatasan antara Jawa Tengah dan Yogyakarta ini cukup lekat dengan nuansa kehinduan. Untuk itu segala perayaan keagamaan hindu di Jawa Tengah dan Yogyakarta salah satunya dipusatkan di Candi Prambanan. Salah satu upacara keagamaan yang prosesinya dilaksanakan di kompleks candi adalah perayaan upacara wisuda bumi.
Upacara wisuda bumi merupakan salah satu upacara ritual agama hindu yang dilakukan secara massal. Ritual ini memiliki istilah lain yang memiliki maksud yang sama yaitu Tawur Agung. Upacara wisuda bumi atau tawur agung ini merupakan salah satu rangkaian perayaan nyepi. Sebelum upacara ini diadakan, ada ritual yang lebih dahulu dilaksanakan yaitu upacara Melasti yang dilaksanakan di pantai Parangkusumo. Hampir sama seperti Tawur Agung, upacara Melasti juga upacara yang dilakukan secara massal. Upacara Tawur Agung dilakukan dalam rangka penyucian diri agar dosa-dosa dan segala keburukan. Landasan filosofisnya adalah pada akhirnya kebaikan yang disertai dengan keikhlasan akan meleburkan kejahatan sehingga keburukan akan musnah.
Secara umum, dapat diterjemahkan bahwa pemimpin ibadah dan para pindandhito atau wasi merupakan kelompok yang dianggap tinggi dalam agama hindu sehingga ditempatkan di sebelah kiri yang menandakan bahwa daerah kiri merupakan area suci atau profan. Susunan jamaah juga daapat dilihat stratifikasinya. Jamaah yang berada di barisan tenda bagian depan—yang berada tepat didepan lapangan tempat ogoh-ogoh dan gunungan—kebanyakan memakai pakaian putih-putih lengkap dengan ikat kepala dan aksesorinya. Berbeda dengan jamaah yang ada dibarisan belakang, mereka kebanyakan memakai batik atau kombinasi baju warna, bahkan ada yang memakai setelan baju berwarna hitam. Perbedaan pemakaian warna baju ini mengundang asumsi bahwa hal ini dipengaruhi oleh perbedaan lokasi penyelenggaraan serta adanya aliran atau paham dalam agama hindu.
Yang Unik Dari Upacara Wisuda Bumi
Kali ini lokasi upacara wisuda bumi berada di Candi Prambanan bagian timur. Hal ini berbeda dengan perayaan tahun lalu yang berada di sebelah selatan candi. Kepanitiannya pun berbeda. Kali ini yang bertugas sebagai penyelenggara adalah KMHD Jawa Tengah. Memang sudah sejak 10 tahun yang lalu penyelenggaraan upacara wisuda bumi diselenggarakan bergantian antara KMHD Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dari perbedaan itu, ada kesan bahwa kalau penyelenggara upacara dari Jawa Tengah, maka upacara terlihat tenang dan khidmat karena keramaian tidak terlalu ditonjolkan. KMHD Yogyakarta berbeda, mereka lebih menyukai keramaian sehingga unsur rame lebih ditonjolkan dengan memunculkan ogoh-ogoh sebagai bentuk simbolis dari tawur agung dalam upacara wisuda bumi.
Namun, kali ini berbeda. Ogoh-ogoh dan gunungan ditampilkan dalam penyelenggaraan upacara kali ini. Ogoh-ogoh nantinya akan dipertunjukkan dalam prosesi tawur agung. Ogoh-ogoh diwujudkan dalam patung babi ukuran besar yang memiliki taring yang besar, sedangkan gunungan diwujudkan dalam bentuk naga berkepala empat dengan sebuah teratai diatasnya. Ogoh-ogoh melambangkan buto atau makhluk jahat sedangkan gunungan adalah dewa. Dapat juga dikatakan bahwa ogoh-ogoh sebagai alam dan gunungan sebagai manusia. Semuanya harus disucikan agar tidak terjadi kerusakan. Untuk itulah diadakan tawur agung dalam wisuda bumi.
Penataan tempat menjadi sangat penting dalam peribadatan umat hindu. Hal ini karena adanya konsep area profan- nonprofan. Konsep ini mengindikasikan bahwa dalam peribadatan hindu, setiap orang memiliki tingkat ketaqwaan yang berbeda. Tingkat ketaqwaan inilah yang kemudian akan memempatkan mereka dalam konsep profan- nonprofan itu.
Dalam penataannya, lokasi dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok wasi atau pinandhito, tempat meletakkan sesajen, temu undangan, panitia, dan kelompok jamaah umum. Area suci terletak di sebelah sudut selatan. Disitulah tempat para wasi atau pinandhito merupakan kelompok umat yang dianggap suci. Selain itu pemimpin upacara juga ditempatkan disana. Baru kemudian para jamaah dan tamu undangan. Jamaah duduk secara berbanjar menghadap ke barat.
Untuk mengikuti upacara, peserta membawa sesajen yang diletakkan dalam kotak yang sudah dihias dan diisi dengan bunga-bunga serta buah-buahan. Kebanyakan sesajen adalah buah-buahan yang dirangkai dan ditata rapi. Setiap keluarga membawa satu sesajen yang kemudian diletakkan di tempat penitipan sesajen. Selain sesajen, setiap orang membawa sebuah bunga yang diletakkan didalam plastik kecil. Sesajen ini akan digunakan dalam prosesi ibadah.
Prosesi Wisuda Bumi
Upacara dimulai pukul 09.00 dengan sambutan dari Gubernur Jawa Tengah. Setelah sambutan dilanjutkan dengan ceramah dari Pinadhito yang kemudian diakhiri dengan nyanyian dharma. Kegiatan sambutan hampir berlangsung selama 1jam. Sebelum prosesi ibadah, terlebih dahulu dilakukan penyucian dengan memercikkan air atau tirta suci. Air itu dimasukkan kedalam kendi-kendi kecil yang dibawa oleh para wasi yang kemudian akan dipercikkan kepada para jamaah. Ada anggapan bahwa setelah terkena percikan air itu, mereka akan kembali suci dari dosa dan akan mendapat berkah dari dewa. Selain itu, ogoh-ogoh dan gunungan mulai diarak. Atraksi ini mengundang para jamaah sekaligus para pengunjung untuk melihat lebih dekat bahkan terlihat seperti acara karnaval sehingga suasana ibadah tidak terlalu ibadah.
Ogoh-ogoh yang dibuat dari gabus itu berbentuk seperti babi yang punya taring besar. Sedangkan gunungan berbentuk gunung yang berada diatas teratai dan naga. Menurut salah seorang jamaah, keduanya memiliki landasan filosofi. Ogoh-ogoh melambangkan kejahatan, naga melambangkan keseimbangan alam dan akhirat sedangkan teratai melambangkan dewa. Atraksi dimana ogoh-ogoh dan gunungan diarak merupakan perlambangan bahwa kebaikan dan kejahatan pasti akan selalu bertemu dan pada akhirnya kejahatan akan musnah ditangan kebaikan.
Berakhirnya pertunjukan ogoh-ogoh itu mengawali prosesi ibadah dan memasuki inti dari kegiatan tawur agung. Para jamaah segera bersiap-siap dengan sikap ibadah masing-masing. Keheningan mulai tercipta dan hanya pemimpin upacara saja yang berbicara. Setiap kali pemimpin upacara berbicara menandakan perintah untuk melakukan gerakan ibadah. Sebagian besar gerakan didominasi oleh gerakan tangan. Gerakan pertama adalah gerakan menyembah dengan tangan tertelangkup. Kemudian tangan digerakkan kedepan-belakang. Gerakan ini diulang beberapa kali, salsah satunya adalah dengan membawa sesajen dan berakhir dengan meletakkan sesajen (bunga atau beras) ke daun telinga atau bagian dari tubuh (kebanyakan di dahi). Prosesi ibadah ini berlangsung hampir 1jam. Setelah itu, ibadah diakhiri dengan memercikkan air suci oleh para resi kepada para jamaah. Setelah upacara berakhir, kebanyakan jamaah tidak langsung beranjak dari tempatnya. Mereka massih tetap duduk dan berkumpul ditempat prosesi ibadah, tetapi ada pula yang berpindah tempat.
Persepsi tentang Tawur Agung
Upacara tawur agung diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak sampai dengan orang dewasa. Saat upacara, mereka sangat antusias dalam mengikutinya, bahkan ada seorang anak laki-laki yang mengikuti upacara tanpa didampingi ibunya. Dia mengatakan bahwa tawur agung adalah ibadah yang wajib dilakukan sebagai seorang umat hindu. Dengan memakai pakaian ibadah—pakaian putih-putih dan ikat kepala—membuatnya semakin terlihat serius dalam beribadah. Kekhusu’kannya bahkan membuatku tidak berani berdialog dengannya lagi.
Senada dengan anak tadi, seorang remaja perempuan bernama Nurma malah mengatakan bahwa sama seperti sholat dalam islam, ritual ini wajib hukumnya. “Perayaan ini adalah salah satu cara untuk menghormati alam yang merupakan bagian dari kehidupan”, katanya.
Setelah mengikuti upacara, orang terlihat bersuka-cita. Ketika menghampiri seorang bapak yang berpakaian putih-putih, dia menjelaskan bahwa segala dosa akan terhapus setelah ikut upacara sehingga dia merasa sudah disucikan dan terlahir kembali. Untuk itu, dia merasa senang.
Ada pula yang mengikuti upacara tawur agung sebagai salah satu kegiatan tahunan. Dengan mengikuti upacara ini, satu keluarga dapat berkumpul sehingga keakraban dan keharmonisan keluarga akan terjalin dengan akrab kembali. Karena melakukan ibadah bersama-sama menurut mereka dapat menguatkan kembali hubungan dengan sesama juga dengan tuhan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar