Saya bingung mau memulai tulisan ini darimana. Namun, daripada berbingung ria dan malah tidak jadi menulis, lebih baik saya bercerita saja. Cerita ini mungkin akan sedikit panjang dan sedikit berliku-liku karena penjelasan yang panjang mungkin. Jadi daripada berbasa-basi, mending langsung dibaca aja deh. Dozoo..
Sejak pertama kali masuk UGM, saya selalu berpikir kenapa para mbak-mbak yang berkerudung panjang selalu berbicara sesuatu yang berbau arab. Kata “afwan..ihwan..ahwat..syukron..” dsb selalu saja muncul. Jujur saya waktu itu sangat tidak menyenangi—bukan berarti saya tidak suka, tapi saya inginnya ya sudah sewajarnya saja--. Apalagi ketika ternyata di fakultas saya ada beberapa mbak-mbak yang memakai cadar. Bukan tidak suka, tapi membuat takut saja.
Saya inginnya yang biasa saja. Tidak terlalu memperlihatkan hal-hal yang seperti sangat terlalu seperti itu—saya memang menggunakan kata terlalu karena itu bagi saya memang tidak wajar, dan sampai sekarang saya masih menganggapnya sebagai suatu hal yang tidak wajar—yah, seperti yang saya bilang, yang wajar saja. Wajar sesuai dengan syariah, sesuai dengan aturan. Suatu kewajaran itu ya memang wajar, tidak usah dibuat-buat, maksud saya seperti itu sih.
Sejak kecil, saya memang dibiasakan untuk beribadah sebaik-baiknya. Sholat harus tepat-ke mesjid pula—ngaji harus rutin—kata bapak, gak banyak gakpapa yang penting rutin—dipaksa pake jilbab pas sekolah—padahal pengen pendek aja—dll. Its oke, saya menjalankannya dengan senang karena bapak dan ibu selalu memberi pertimbangan yang baik kepada saya. Sehingga pada akhirnya saya nurut saja. Semua berdasarkan pertimbangan yang diberikan oleh bapak dan ibu. Sampe saya kuliah dan memutuskan untuk pake jilbab kemanapun itu juga itu juga sangat dianjurkan oleh mereka. Ketika kuliah, saya memang semakin terlihat berbeda—kata mereka—saya memakai rok :D Itu adalah hal yang mengejutkan ibu saya.
Kenapa itu terjadi, karena satu hal. Saya sangat terkagum-kagum dengan seorang mbak-mbak yang sangat ramah, baik hati, dan sangat cantik. sebagai seorang manusia, saya juga sangat ingin seperti itu. Maka dari itu saya mulai berubah. Terlepas dari ketidaksukaan saya dengan sesuatu yang berbau arab itu, aku sangat ingin seperti mbak itu yang lancar sekali dalam membaca Al-qur’an—dijamin akan sangat menyenangkan berada disamping mbak itu pas baca Al-qur’an—dan yang jelas tau apa maknanya—sangat sabar ketika ditanya tentang pacaranlah, bid’ahlah, sholat yang baik gimanalah, dan sebagainya. Aku jadi tidak enak, padahal aku dulu dari kecil ikut sekolah sore di Madrasah Al-falah, tapi pengetahuan agama masih minim saja.
Selama 3 tahun kuliah di Fib, saya memang tidak ingin bergabung dengan KMIB—SKI fakultas. Walaupun dipaksapun, walau katanya orang di KMIB sudah pada gak ada pun, saya tetap tidak mau mengidentifikasikan diri saya sebagai KMIB. Namun, bukan berarti saya tidak peduli dengan keberadaan sesuatu yang dinamakan dengan dakwah di FIB. Setauku dakwah bisa dilakukan dengan berbagai macam—termasuk tidak mengidentifikasikan diri sebagai KMIB pun tidak apa-apa—masih ada cara berdakwah yang lain.
Dakwah menurut saya adalah sebuah upaya untuk memberitahukan sesuatu yang baik, dari yang belum tau menjadi tau. Dari yang tidak baik menjadi baik. Secara singkat, itulah yang saya sebut dengan dakwah. Saya membagi sebuah kata dakwah tersebut dalam 2 kategori dimana dakwah itu untuk diri sendiri dan untuk orang lain. Diri sendiri karena saya juga ingin menjadi seorang yang baik, menjadi seorang yang disayang Alloh—karena saya juga sayang Alloh. Bukan berarti saya egois karena saya berdakwah untuk diri sendiri, tapi bagaimana saya akan mendakwahi orang lain kalau ternyata saya belum benar-benar mengerti tentang sesuatu—yang menyangkut Alloh tentunya. Dan tidak dipungkiri bahwa saya termasuk orang yang lemah dalam godaan duniawi. Beberapa kali memang saya mangkir—tapi akhirnya sadar kok—maka dari itu saya selalu butuh diingatkan dan dikuatkan.
Sedangkan dakwah untuk orang lain—kalau menurut saya dan memang bagi saya—adalah berdiskusi dan saling mengingatkan satu sama lain tentang ibadah, tentang kebiasaan yang baik yang tentu saja membawa pada suatu kebaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar