Beberapa cerita ini memang membuatku sedikit mengingatkanku pada suasana kedatangan sampai hampir dua hari kami berada di Desa Kandri, tepatnya di Dusun Talun Kacang. Kedatangan kami di Desa Kandri memang sudah direncanakan karena memang desa itulah yang akan menjadi tempat kami belajar memahami alam dan memaknai apa arti riset yang sebenarnya. Pada hari sebelumnya, kami sudah diwanti-wanti untuk mempersiapkan diri sepagi mungkin karena kami harus meninggalkan Griya Wiyata Patemon pukul 07.00. Namun, pada akhirnya kami baru berangkat pukul 07.43 karena kengaretan kami (atau mungkin lebih karena longgarnya waktu yang diberikan oleh panitia). Tentunya pasti tak ketinggalan, kami mesti pose dulu sebelum meninggalkan GWP yang (mungkin) cukup indah itu.
Sebelum benar-benar melakukan perjalanan, kami dibawa ke embung terlebih dahulu oleh panitia. Embung atau yang lebih pantas disebut sebagai pemancingan kolam ijo merupakan sebuah kolam yang besoknya akan dijadikan sebagai tempat yang oleh mereka dikatakan sebagai simbol konservasi. Padahal kolam itu kotor sekali, banyak sekali sampah yang mengapung di air. Mana begitu ada orang-orang yang sedang memancing. Kolamnya pun berwarna ijo, bahkan warna ijonya mengendap kayak sayur lodeh yang dibikin ibu. Saya jadi berpikir-pikir, mananya yang diasosiasikan untuk kata konservasi. Saya sendiri juga sebenarnya kurang mengerti dari kata embung itu (yang kutahu malah kembung..ho ho). Kata mbak panitia, embung itu dulunya saat peresmian disebar banyak ikan. Akan tetapi yang terjadi malah, ikan-ikan tersebut dipancing sama warga sekitar. Akhirnya ikan-ikan yang masih benih itu harus direlakan untuk dipancing. Yah, malang sekali kau, wahai ikan kecil, kataku dalam hati. Setelah berbasa-basi (yang lumayan cukup lama dengan mendengar cerita mbak-mbak panitia tentang sejarah UNNES yang –cukup—panjang, akhirnya kami sarapan juga. Sarapan pagi ini membuat kami menjadi cukup akrab satu sama lain, walaupun dengan menu yang sederhana dan (tidak) terlalu elit. Selesai makan, Pak Rektor UNNES ternyata sedang jalan-jalan. Saat itu pula (dengan bangga) kami panggil Pak Rektor tersebut tentu saja untuk mengajak berfoto, dan tentu saja pula sebagai pelengkap LPJ. Pukul 09.12 kami benar-benar meninggalkan UNNES.
Perjalanan menuju Desa Kandri memang tidak memakan waktu lama. Perjalanan kurang lebih 1 jam itu kami hiasi dengan canda tawa sembari bercerita tentang kejadian GeJe sebelum sampai ke UNNES. Saya tidak terlalu memperhatikan apa yang dibicarakan oleh teman-teman yang lain karena saya lebih asyik melihat pemandangan yang cukup bagus dan tentu saja sembari ngobrol dengan Pak Sopir. Pak Sopir itu menceritakan beberapa hal yang cukup menarik terkait dengan Desa Kandri. Intinya, Desa Kandri itu akan dijadikan desa wisata dengan pendukung utamanya yaitu Goa Kreo yang punya banyak kera serta dibangunnya Waduk Jatibarang disekeliling Goa. Itu artinya ada sebuah pembangunan besar di desa tersebut. Cukup menarik sih..
Pukul 11.03 kami sampai di lokasi, tepatnya di rumah pak (lupa) yang nantinya menjadi pondokan kami. Terlebih dahulu sambutan atas kedatangan kami dihadiri oleh Pak Kades dan Pak RW. Setelah itu, kami langsung dikumpulkan dan diinteruksikan bahwa untuk pondokan, ada 3 pondokan yang disediakan. Pondokan tersebut dibagi sesuai dengan kelompok yang sudah dibagi pada hari sebelumnya. Kebetulan saya dan Erni berada dalam satu pondokan, yaitu pondokan 3 yang berada di ujung nan jauh disana. Sedangkan antina berada di pondokan 2. Sempat kaget juga bahwa ternyata tidak ada pembagian antar laki-laki dan perempuan. Kata panitia, itu untuk pengkondisian pembuatan ICP agar tidak ribet. Hasilnya, kami harus satu rumah. Rumah yang saya tempati berisi 6 orang perempuan dengan 3 orang laki-laki. Namun, pondokan Antina mengalami kesejangan dengan personil 2 perempuan dan 7 orang laki-laki.
Kami diinstruksikan untuk beristirahat sebentar sembari menunggu dhuhur. Rencananya kami akan survey ke Goa pada jam 2. Untuk mengisi waktu yang (terkesan sia-sia dan) panjang tersebut, kami pakai untuk saling mengenal anggota pondokan satu-sama-lain. Memang terkesan formal sih, tetapi keformalan itu akhirnya cair dengan satu kalimat berbahasa madura yang mengantarkan saya pada hal menarik tentang makasar. Makasar itu memang terlalu unik. Makasar akhirnya malah menjadi topik utama dengan bahasanya yang (lumayan) cukup unik. Jadi pengen kesanaaaaa..
Obrolan tentang makasar dan kehidupan akademik disana harus diakhiri dengan sholat dhuhur dan persiapan survey ke Goa Kreo. Namun, survey yang diawali dengan hati riang gembira tersebut akhirnya harus dipending karena hujan yang lumayan deras. Acara kemudian dialihkan dengan dongeng dan cerita yang disampaikan oleh pak (lupa) tentang sejarah, kehidupan sosial, dan ekonomi masyarakat Dusun Talun Kacang.
Cikal bakal Dusun Talun Kacang berhubungan erat dengan sunan Gunung Jati saat menjalankan misinya menyebarkan agama islam di bumi Jawa. Keberadaan kera-kera yang ada di Goa Kreo tersebut juga punya hubungan dengan tersebarnya dakwah islam di kawasan tersebut. Konon, kera-kera tersebut merupakan ajudan Sunan Gunung Jati yang harus berpisah dengan Sunan Gunung Jati karena merasa hidupnya berbeda dengan Sunan Gunung Jati yang adalah manusia. Kera-kera tersebut tinggal ditempat tersebut memang karena titah dari Sunan Gunung Jati. Karena itu, mereka tidak akan pernah meninggalkan Goa tersebut karena tempat itu adalah rumah mereka.
Cerita tentang Desa, Goa, serta terjadinya proyek pembangunan waduk tersebut terus berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa teman-teman kami. Sekilas, pertanyaan mereka memang tidak terlalu jauh dari apa yang diceritakan pak (lupa). Yah, sekedar penjelasan dan deskripsi yang lebih jelas saja, menurut saya. Namun, pertanyaan yang menarik perhatian saya adalah pertanyaan dari mbak Alwa yang menanyakan tentang akankah ada keberlangsungan orang-orang yang memiliki pengetahuan murni seperti pak (lupa) tersebut saat 10 samapi 15 tahun kedepan, saat jaman dan keadaan mungkin sudah berubah. Bapak tersbeut hanya tersenyum dan menjawab dengan nada yang mungkin terdengar agak miris. Memang menurut saya juga pemahaman masyarakata tentang esensi dari desa wisata yang akan dirintis terasa kurang. Kurangnya sosialisasi mungkin yang menjadi permasalahan. Kader-kader seperti pak (lupa) tersebut diakui kurang olehnya. Permasalahan yang penting dalam pembentukan desa wisata memang terpaut pada 2 hal. Membuat sebuah desa wisata memang harus memiliki SDM yang cukup tangguh, handal, dan kreatif. Selain itu, sistem yang baik pun diperlukan sebagai penuntun. Karena SDM yang baik tanpa sistem yang baik, desa wisata yang akan dirintis tidak akan terealisasi dengan maksimal.
Diskusi sore itu memang cukup menarik. Kegejeanku dengan tulisan dan gambar yang kutulis dibuku pun ternyata menjadi hal yang kata pak ‘sekjen’ menarik. Saya yang hanya iseng karena terlalu banyak masalah yang menimpa saya (halah), malah diminta untuk menjelaskan apa maksud dari tulisan gejeku itu. Saat itulah aku baru tau bahwa pak ‘sekjen’ adlaah orang yang gejeee..XD
Sore itu kami kembali ke pondokan masing-masing. Dengan berjalan kaki tentunya, kami berjalan beriringan menuju pondokan. Antina yang harusnya berada di pondokan 2 pun kami ajak untuk berkunjung ke pondokan 3. Sebenarnya ada misi penting yang akan kami jalankan, terkait dengan keberadaan hape antina yang sedang tidak diketahui keberadaannya. Cerita tentang keberadaan hape antina memang cukup panjang apabila dijelaskan disini. Karena itu mending tidak usah dijabarkan saja, karena hal itu akan memakan space yang cukup banyak.
Selesai dengan misi tersebut, kami melakukan sholat maghrib berjamaah. 4 orang laki-laki yang sedang ngobrol ngalor-ngidul itu pun saya ajak karena menghargai mereka sebagai laki-laki (maksudeeeeee XD). Nah, kegejeean lagi-lagi terjadi disini. Mereka muter-muter bikin shof sampai akhirnya kami harus berbicara. Lucunya kami (andri, erni, antina) salah perkiraan dengan imam. Kesalahan itulah yang akhirnya memunculkan kosakata baru dalam kehidupan yang hanya berumur 2 hari tersebut. “Mas Kejar Prestasi” menjadi label dari mas-mas yang berasal dari kalimantan karena baju mereka yang bertuliskan dengan jelas “Buruan Kejar Prestasi”. Antina yang pertama kali melontarkan kata tersebut membuat kami semua tertawa sampai 2 kali kami membatalkan sholat. (huh sial banget oq XD)
Kegejean akhirnya menyebar. Tentu saja tidak akan selesai pada hari itu. Sampai malam kegejean semakin menjadi-jadi. Mulai dari balapan sama anak-anak, diskusi tentang pariwisata yang kahirnya malah menjadi demo dan birokrasi, sampai dengan permasalahan mau tidur dimana. Kompleks memang. Namun, dari situlah akhirnya kami menjadi keluarga. Yah, keluarga pondokan 2 dan pondokan 3.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar